PENDAHULUAN

Tulisan ini akan membahas dinamika bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia, yang ditinjau dari aspek regulasi telekomunikasi, aspek persaingan bisnis telekomunikasi, aspek penggunaan layanan telekomunikasi, dan aspek teknologi telekomunikasi. Kemudian akan dijelaskan pula tentang karakteristik bisnis telekomunikasi.

 

1. Aspek Regulasi Telekomunikasi

Ditinjau dari aspek regulasi telekomunikasi, dapat diketahui bahwa sejak adanya Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, semakin meningkatkan dinamika bisnis telekomunikasi di Indonesia.

Asas penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia adalah asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, kemitraan, etika, dan kepercayaan pada diri sendiri (Pasal 2, UU Telekomunikasi). Sedangkan tujuan penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia adalah mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan, serta meningkatkan hubungan antar bangsa (Pasal 3, UU Telekomunikasi).

Penyelenggaraan Telekomunikasi di Indonesia dikelompokkan dalam 3 jenis yaitu Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (jartel), Penyelenggara Jasa Telekomunikasi (jastel), dan Penyelenggara Telekomunikasi Khusus (telsus). Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (jartel) dibagi lagi dalam 2 kelompok yaitu Penyelenggara Jaringan Tetap (jartap) dan Penyelenggara Jaringan Bergerak (jarber) (Sumber: PP 52/2000).

Penyelenggara jartap terdiri dari jartap lokal 24 perusahaan, jartap SLJJ 2 perusahaan, jartap SLI 3 perusahaan, dan jartap tertutup 62 perusahaan, Sedangkan penyelenggara jarber terdiri dari jarber terrestrial 8 perusahaan, jarber seluler 8 perusahaan, dan jarber satelit 1 perusahaan. Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Smartfren, Hutchison termasuk dalam kelompok Penyelenggara jarber seluler (Jusak, 2013).

 

2. Aspek Persaingan Bisnis Telekomunikasi

Jumlah pengguna layanan telekomunikasi seluler di Indonesia yang tercatat mencapai 310 juta (Sumber: Data dan Tren TIK, 2014). Terdapat pemasalahan tentang catatan banyaknya jumlah pengguna seluler yang telah melebihi jumlah penduduk Indonesia, yang disebabkan satu pengguna memiliki beberapa kartu perdana dari berbagai perusahaan telekomunikasi seluler karenapola pemakaian yang sekali pakai lalu dibuang dan ganti kartu perdana baru. Disamping itu karena ketidakakuratan catatan yang dimiliki para operator telekomunikasi seluler tersebut, atau melaporkan semua data pengguna baik yang aktif maupun yang sudah tidak aktif.

Jumlah Base Transceiver Station (BTS) tersebar di seluruh wilayah Indonesia mencapai 183.000, yang terdiri dari BTS 2G sebanyak 110.000 dan BTS 3G sebanyak 60.000,  dan sisanya BTS 4G (Sumber: Data dan Tren TIK, 2014). Terdapat permasalahan terkait tidak meratanya persebaran BTS 3G dan 4G, karena hanya masih tersebar di beberapa kota dan kabupaten tertentu saja, serta ketidakmauan atau ketidakmampuan para operator telekomunikasi seluler untuk membangun infrastruktur yang merata di beberapa daerah terpencil.

Ditinjau dari aspek persaingan bisnis telekomunikasi, diketahui bahwa perusahaan telekomunikasi seluler di Indonesia dapat mencapai kinerja bisnis (business performance) yang unggul apabila melalui value creation yang dilandasi dengan utilization of resources, development of new products, serta implementation of proper business strategy. Perusahaan telekomunikasi seluler diharapkan selalu memahami segala bentuk perubahan yang terjadi di pasar, perubahan perilaku pengguna, serta perubahan teknologi telekomunikasi, sehingga dapat menentukan strategi yang paling layak dalam mengembangkan produk baru yang lebih cocok dengan kebutuhan pengguna. Disamping itu perusahaan telekomunikasi seluler di Indonesia perlu melakukan efisiensi untuk meningkatkan daya saing (Firmansyah, 2015).

Terkait dengan efisiensi investasi, maka peningkatan belanja modal (capex) perusahaan telekomunikasi harus lebih diperhatikan dan diprioritaskan untuk yang benar-benar memiliki dampak positif dan signifikan terhadap peningkatan jumlah pelanggan, laba operasi, dan imbal hasil investasi (ROI). Belanja modal perusahaan telekomunikasi diketahui memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah pelanggan, laba, dan imbal hasil investasi (Firli, Primiana, dan Kaltum, 2015).

 

3. Aspek Penggunaan Layanan Telekomunikasi

Ditinjau dari aspek penggunaaan layanan telekomunikasi, dapat diketahui bahwa layanan telekomunikasi suara (voice), pesan singkat (sms), dan data (broadband) telah melengkapi kebutuhan masyarakat dalam berkomunikasi jarak jauh. Hal ini juga ditampakan dari maraknya penggunaan sosial media, e-banking, e-commerce, dan e-learning.

Demikian pula penggunaan layanan mobile internet dgunakan dalam pencarian informasi dan hiburan, melalui perangkat telekomunikasi yang dapat dibawa kemana-mana, juga telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat, misalnya dalam bekerja yang dahulu dilakukan di kantor, atau belajar yang dahulu harus hadir di kelas, namun kini dapat dilakukan dari jarak jauh (Makodian dan Wadhana, 2010).

 

4. Aspek Teknologi Telekomunikasi

Apabila ditinjau dari aspek perkembangan teknologi telekomunikasi nirkabel di Indonesia maka diketahui perkembangan tekonologi telekomunikasi seluler generasi pertama (1G), kemudian era 2G, dan dilanjutkan era 3G, hingga sekarang era 4G.

Pada tahun 1985 an diperkenalkan teknologi telekomunikasi seluler generasi pertama (1G) yaitu Advanced Mobile Phone System. Selanjutnya era 2G dimulai pada tahun 1995-an dengan berdirinya operator GSM yaitu Satelindo, disusul dengan Telkomsel yang merupakan anak usaha PT Telkom, serta berdiri pula Excelcomindo.

Era 3G berkembang sejak tahun 2005-an, ditandai berdirinya berdirinya PT CAA menjadi PT Hutchison (H3I) dan PT Natrindo (NTS) yang menjadi PT Axis Telecom. Serta tiga operator telekomunikasi seluler utama Telkomsel, Excelcomindo (sekarang XL Axiata), dan Indosat.

Adapun era 4G di Indonesia berkembang puncaknya tahun 2015 ini ditandai dengan peresmian oleh Presiden RI dengan hadirnya hadirnya Revolusi Digital Indonesia melalui ketersediaan 4G/LTE, yang dioperasikan oleh Telkomsel sebagai anak perusahaan Telkom, Indosat Ooredoo, XL Axiata, Smartfren, dan PT Hutchison 3 Indonesia.

 

5. Perusahaan Telekomunikasi Tercatat di BEI

Sampai dengan tahun 2015, terdapat 6 perusahaan telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), 4 diantaranya adalah: Telkom (TLKM), Indosat (Isat), XL Axiata (EXCL), Smartfren (FREN). Dari sisi kinerja keuangan diketahui bahwa hanya Telkom saja yang untung di tahun 2014 lalu, sedangkan Indosat, XL, dan Smartfren mengalami kerugian (sumber: www.idx.co.id).

Telkom melalui anak usahanya Telkomsel memiliki 140 juta pelanggan dengan dukungan BTS sebanyak 90.000 lokasi, Indosat (ISAT) memiliki 66 juta pelanggan dengan dukungan BTS sebanyak 40.000 lokasi, XL Axiata (EXCL) memiliki 58 juta pelanggan dengan dukungan BTS sebanyak 52.000 lokasi, serta Smartfren (FREN) yang memiliki 12 juta pelanggan dengan dukungan BTS sebanyak 6.000 lokasi (sumber: www.detik.com).

 

6. Karakteristik Bisnis Telekomunikasi

Perusahaan telekomunikasi seluler memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan manufaktur maupun perusahaan perdagangan, antara lain dari sisi operasional dan hasil produksinya.

Dari sisi operasional, perusahaan telekomunikasi mengoperasikan jaringan telekomunikasi yang dipasok oleh pemasok peralatan telekomunikasi,  kemudian mengoperasikan peralatan telekomunikasi tersebut sehingga menghasilkan keluaran berupa layanan telekomunikasi, yang dapat dinikmati pengguna/pelanggan. Layanan telekomunikasi seluler dapat berupa suara (voice), pesan singkat (sms), maupun data (internet).

Pengguna yang menikmati layanan telekomunikasi memerlukan perangkat penerima (handphone/smartphone) yang didalamnya terdapat kartu perdana (SIM/RUIM), dan berisi pulsa yang cukup. Kartu perdana dan voucher pulsa didistribusikan oleh distributor yang bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi.

 

PENUTUP

Dalam rangka pemerataan penggunaan layanan telekomunikasi di Indonesia perlu dukungan para pemasok peralatan telekomunikasi dan para distributor kartu perdana dan voucher pulsa, sehingga ketersediaan dan keterjangkauan layanan telekomunikasi dapat merata ke berbagai wilayah perkotaan hingga ke pelosok desa.

Hubungan kerjasama antara perusahaan telekomunikasi dengan pemasok peralatan telekomunikasi serta distributor kartu perdana dan voucher pulsa terbentuk dalam suatu rantai yaitu supply chain. Hubungan kerjasama atau kemitraan tersebut perlu dipelihara dan diperkuat untuk dapat mencapai kualitas yang unggul dalam melayani pengguna telekomunikasi.

Para penyelenggara telekomunikasi juga harus lebih memahami, bahwa dalam dinamika bisnis telekomunikasi juga perlu memperhatikan tersedianya infrastruktur yang merata (availability), harga pelayanan yang terjangkau (affordability), kualitas layanan yang baik (quality), serta aman dari sisi jaringan maupun konten (security).

(Assery)