Perbedaan nama dan makna antara Perilaku Organisasi dan Perilaku Ke(organisasi)an dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bila merujuk ke bahasa aslinya yaitu Organizational Behavior (OB), maka secara harfiah berarti Perilaku Keorganisasian, yaitu mempelajari pengaruh individu, group, dan struktur terhadap perilaku para anggota organisasi dengan maksud untuk mencapai dan meningkatkan efektifitas dan efisiensi organisasi.

OB merupakan studi tentang apa yang dilakukan orang (people) di dalam organisasi sebagai system sosial dan bagaimana perilaku tersebut mempengaruhi kinerja organisasi, yang sering direfleksikan dalam bentuk efektifitas dan efisiensi (Sobirin, 2013).

OB menjadi penting karena mempertimbangkan organisasi sebagai suatu sistem yang terdapat banyak perbedaan didalamnya. Dengan semakin berpengaruhnya globalisasi dan teknologi informasi terhadap organisasi maka kemampuan organisasi dalam menghadapi perubahan lingkungannya menjadi penting pula. Hal ini bisa dilakukan dengan meningkatkan produktifitas dan kualitas berorganisasi serta memperhatikan perilaku etis dalam organisasi (Sobirin, 2013).

Perilaku Ke(organisasi)an tidak sama dengan Teori Organisasi, karena teori organisasi membahas berbagai ideologi dan penafsiran atas suatu organisasi, serta berisi uraian teori-teori dan faham-faham tentang organisasi (Goedono, 2012, Edisi 2). Analisis tentang organisasi dalam teori organisasi didalami melalui berbagai pendekatan antara lain scientific management, social psychology of industry, sosiologi organisasi, dan studi kritis organisasi.

Secara filosofis, terdapat kesamaan, perbedaan, dan hubungan antara Perilaku Ke(organisasi)an dan Manajemen Sumberdaya Manusia sebagai berikut.

Perilaku Keorganisasian didalami dengan pendekatan behavioral sedangkan Manajemen SDM didalami dengan pendekatan sistem.  Perilaku ke(organisasi)an yang didasarkan pada pendekatan behavioral tersebut merujuk kepada elemen-elemen behavioral seperti elemen attitude (A) dan elemen lainnya (Others). Sedangkan Manajemen SDM yang didasarkan pada pendekatan sistem merujuk kepada knowledge (K) dan skill (S). Bahwa K + S merupakan realitas organisasi dan dibutuhkan dalam organisasi, namun demikian peran A sangat penting dipelajari karena untuk mengetahui apakah A mendukung ataukah menghambat peran K+S dalam mencapai prestasi (performance).

Bahwa dalam bentuk makro merujuk pada populasi dan komunitas organisasi sedangkan dalam bentuk mikro merujuk pada individu (Van de Ven, 1983). Penjelasan lain adalah bahwa perilaku ke(organisasi)an dalam bentuk makro merujuk kepada aspek stratejik, sedangkan bentuk mikro merujuk kepada aspek fungsional. Aspek organisasi yaitu desain/struktur organisasi sedangkan aspek mikro yaitu perilaku individu dan kelompok. Orlando Behling (1978) mengemukakan bahwa yang dipelajari dalam perilaku keorganisasian meliputi level individuals, groups, organizations dan societies.