Kontrak Psikologis dalam suatu organisasi adalah suatu kontrak tidak tertulis yang ada dalam diri setiap individu dalam organisasi yang merujuk kepada saling membutuhkan diantara pegawai dengan atasan, maupun pegawai dengan organisasi. saling membutuhkan terjadi jika masing-masing pihak memiliki tujuan yang ingin dicapainya dan yakin bisa mencapainya (Amstrong, 2004).

Kontrak psikologis sebagai bentuk informal dan tidak tertulis terdiri dari ekspektasi pegawai dan atasannya mengenai hubungan kerja yang bersifat timbal balik (reciprocal). Artinya, kontrak psikologis muncul ketika karyawan menyakini bahwa kewajiban perusahaan pada karyawan akan sebanding dengan kewajiban yang diberikan karyawan kepada perusahaan (Amstrong, 2004).

Dalam Social Exchange Theory (menurut Blau), dijelaskan tentang kepercayaan antara 2 pihak yang dibangun dengan cara menunaikan kewajiban dan pertukaran. Manfaat pertukaran sosial tidak diwujudkan secara formal atau tidak diwujudkan dalam kontrak yang bersifat eksplisit, tidak ditentukan di depan, dan tidak dinegosiasikan seperti hanya dalam pertukaran ekonomi. Dalam pertukaran sosial, manfaat adalah tindakan yang bersifat sukarela, sehingga terkadang tidak ada jaminan bahwa manfaat yang diberikan akan dibalas dikemudian hari.

Fenomena psychological contract ditinjau dengan kacamata teori pertukaran sosial, maka ada dua jenis pemahaman yang akan timbul: pertama adalah pertukaran diantara karyawan dan organisasi yang mempekerjakan karyawan tersebut dan kedua adalah pertukaran diantara karyawan dan atasannya dalam organisasi. bentuk pertukaran sosial ini berbeda dengan pertukaran ekonomi antara para pihak, bentuk pertukaran sosial dilandasi dengan kepercayaan dan komitmen.

Teori Social Cognitive Theory (Bandura) menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif memainkan peran penting dalam pembelajaran. Bandura mengembangkan model deterministic resiprocal yang terdiri dari tiga faktor utama yaitu person/kognisi,  perilaku, dan lingkungan yang saling berinteraksi.

Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan. Faktor person (kognitif) yang dimaksud adalah self-efficasy atau efikasi diri yaitu keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan  masalah dengan  efektif.  Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan, tidak merasa ragu karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya.

Fenomena psychological contract bila ditinjau dengan kacamata teori kognitif sosial, maka pemahaman yang akan timbul adalah pertama bahwa person/kognisi,  perilaku, dan lingkungan saling berinteraksi. Demikian pula seorang karyawan yang secara psikologis merassa ada kaitan dengan organisasi atau atasan nya maka akan memahami adanya perlakuan timbal balik (reciprocal), apabila dia berperilaku produktif maka akan menghasilkan kinerja individual yang baik pula dan berkontribusi positif pada kinerja perusahaan.

Namun bila karyawan berperilaku tidak produktif maka akan menghasilkan kinerja yang tidak baik dan tidak memberi kontribusi yang positif bagi perusahaan. bekerja dengan baik adalah pertukaran diantara karyawan dan organisasi yang mempekerjakan karyawan tersebut dan kedua adalah pertukaran diantara karyawan dan atasannya dalam organisasi.

Dengan efikasi diri yang tinggi akan memberi keyakinan bagi karyawan dimaksud bahwa semua pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural serta motivasi yang dimiliki karyawan tersebut akan meningkatkan produktifitas kerja dan menghasilkan prestasi kerja yang baik, dan pada akhirnya akan berkontribusi positif bagi organisasi.