Dalam beberapa pembahasan literatur tentang organizational misbehaviour (OMB) yang dilakukan oleh Vardi dan Weiner (1996), Ackroyd dan Thompson (1999), dan Watson (2003) dapat dikumpulkan beberapa definisi sebagai berikut:

any intentional action by member/s of organisation/s that defies and violates shared organisational norms and expectations, and/or core societal values, mores and standards of proper conduct (Vardi dan Wiener, 1996)

anything you do at work you are not supposed to do (Ackroyd and Thompson, 1999)

activities occurring within the workplace that according to official structure, culture and rules of the organisation, “should not happen” and  contain an element of challenge to the dominant modes of operating or to dominant interests in the organization (Watson, 2003).

Dari beberapa definisi diatas dapat dijelaskan sebagai berikut. Vardi dan Weiner (1996) mengemukakan adanya unsur aksi interpersonal berupa pelanggaran terhadap norma, harapan, moral, dan standar organisasi. Sedangkan Ackroyd and Thompson (1999) menekankan pada semua aksi apapun yang seharusnya tidak boleh terjadi di tempat kerja. Pendapat lain dikemukakan Watson (2003) dapat melengkapi kedua pendapat tersebut karena di satu sisi menitikberatkan adanya pelanggaran terhadap struktur resmi organisasi, budaya, dan aturan organisasi namun di sisi lain juga menitikberatkan adanya unsur pengingkaran terhadap operasional organisasi

Menurut Vardi dan Weiner (1996) OMB adalah semua bentuk aksi yang secara sengaja dilakukan anggota organisasi berupa penyimpangan dan perusakan terhadap norma, harapan, nilai sosial, moral, serta standar perilaku organasi. Kata intentional mengandung maksud dilakukan secara sengaja, oleh karena itu apabila tidak sengaja atau incidental atau tidak sadar, tidak termasuk dalam OMB. Adanya perusakan terhadap nilai dan norma organisasi merupakan komponen pokok OMB.

Adapun yang dimaksud organisasi meliputi semua bentuk entitas sosial yang terdiri dari beberapa kelompok dan individu, artinya semua bentuk kumpulan yang akan menarik minat para manajer, para peneliti ataupun konsultan untuk melakukan penyelidikan. Penentuan ruang lingkup organisasi adalah penting karena akan dibandingkan dengan nilai dan norma yang melekat dalam organisasi yang diamati tersebut (Vardi dan Weiner, 1996).

Selanjutnya Vardi dan Weitz (2004) mengajukan penyusunan model integratif OMB yang dijelaskan sebagai berikut. Bahwa anteseden OMB dapat ditinjau dari individual level, position/task level, group level, dan organizational level. Sedangkan konsekwen (manifestasi) OMB terdiri dari intrapersonal misbehavior, interpersonal misbehavior, production misbehavior, property misbehavior, dan political misbehavior, yang mana kesemua jenis manifestasi ini akan berakibat pada financial cost maupun social cost.

Oleh karena OMB memiliki pengaruh terhadap kerugian yang timbul baik dari sisi keuangan maupun sosial, maka perlu dilakukan intervensi atas anteseden OMB tersebut antar lain dengan cara seleksi yang baik, pendidikan dan pelatihan, serta mendisain ulang pekerjaan bila diperlukan. Intervensi juga bisa dilakukan dari sisi manifestasi OMB dengan cara menerapkan sistem penghargaan dan hukuman, bahkan sampai kepada pemutusan hubungan kerja.