Burrel dan Morgan (1979), menjelaskan asumsi sifat ilmu sosial ditinjau dari sisi ontology, epistemology, dan sifat manusianya, serta asumsi masyarakatnya. Masing-masing dijelaskan dari sisi pendekatan positiv (mainstream) dan sisi pedekatan sosiologis.

Pendekatan minstream positive mendasarkan pada beberapa asumsi sebagai berikut. Aspek ontology, bahwa dunia sosial dan strukturnya dapat dipandang memiliki keberadaan secara empiris dan konkrit diluar diri peneliti serta terpisah dari individu yang ingin mempelajarinya (realisme fisik). Aspek epistemologinya, bahwa ilmu pengetahuan dianggap dapat diperoleh lewat observasi (induksi) dan disusun secara sepotong-sepotong. Aspek sifat manusianya, bahwa perilaku manusia dan pengalan-pengalamannya ditentukan dan dibatasi oleh lingkungannya. Dan aspek sifat masyarakatnya, bahwa ada keteraturan, order dan stabilitas yang digunakan untuk menjelaskan mengapa masyarakat cenderung untuk selalu dalam kebersamaan.

Pendekatan sosiologis berdasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut. Aspek ontologynya bahwa keberadaan suatu realitas merupakan produk dari kesadaran individu – dunia sosial terdiri dari konsep-konsep dan label-label yang diciptakan oleh manusia untuk membantu memahami realitas. Aspek epistemologinya, bahwa ilmu pengetahuan dapat dikaitkan dengan unsur subyektif dan bersifat personal, dan dunia sosial hanya dapat dipahami dengan cara mendapatkan ilmu pengetahuan dari subyek yang sedang diinvestigasi. Sifat manusianya, bahwa manusia dapat dipandang memiliki otonomi dan kebebasan, dan mampu menciptakan lingkungan yang dikehendakinya. Sifat masyarakatnya, bahwa masyarakat melihat pembagian mendasar dari kepentingan, konflik dan ketidakadilan distribusi kekuasaan yang pada gilirannya menimbulkan perubahan radikal.

Bila dihubungkan dengan Manajemen dan Akuntansi maka sebagai berikut.

Tema sentral manajemen mengalami pergeseran, dari tema efisiensi mekanis hingga tema kompetitif. Tahap pertama tema efisiensi mekanis dalam perspektif lingkungan tertutup dengan tokohnya Frederick Taylor, Henry Fayol. Kemudian tahap kedua tema human relation dalam perspektif lingkungan tertutup dan tokohnya Elton Mayo dan Mc Gregor. Tahap ketiga dengan tema disain kontinjensi dalam perpektif sistem lingkungan terbuka dengan tokohnya Herbert Simon dan Aston Group. Lalu tahap keempat tema persaingan dan  kekuasan dalam sistem lingkungan terbuka dengan tokohnya March dan Pfeffer. Maka diadopsilah paham Logical Positivism dalam filsafat ilmu sebagai dasar pengembangan management sebagai science.

Demikian pula dengan akuntansi, awal dikembangkan dengan konsep penalaran normative seperti dilakukan Paton(1922); Edward and Bell (1961); Chambers (1966); Sterling (1970). Pengembangan teori akuntansi juga menghasilkan tenik-teknik akuntansi manajemen yang tidak memiliki kandungan empiris, karena banyak menggunakan metode deduktif. Lalu timbul kesenjangan antara teori yang diajarkan di buku teks akuntansi manajemen dengan realitas yang sesungguhnya digunakan oleh perusahaan dalam praktek sehari-hari. Akuntansi sebagai seni memberikan definisi seni mencatat dan meringkas transaksi-transaksi bisnis dan menginterpretasikan pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi. Demikian pula terjadi ketidakjelasan perbedaan akuntansi sebagai bidang studi dan akuntansi sebagai bidang profesi.

Definisi akuntansi sebagai seni awal tahun 1970-an mulai ditolak oleh para akademisi akuntansi. Mereka berpendapat bahwa akuntansi adalah ilmu (science) atau paling tidak dikembangkan sebagai science. Dengan demikian diperlukan scientific methodology untuk mengembangkan akuntansi sebagai science. Maka diadopsilah paham Logical Positivism dalam filsafat ilmu sebagai dasar pengembangan akuntansi sebagai science.

Namum, implikasi dari Logical Positivism ini memunculkan teori akuntansi normative (lewat penalaran deduktif) dan teori akuntansi positive (penalaran induktif). Teori akuntansi normative ingin menjawab apa yang seharusnya dilakukan oleh akuntansi dalam praktek sehari-hari atau ingin menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan “berapa besarnya biaya, pendapatan, kekayaan (asset) dan hutang yang harus dilaporkan?”. Sedangkan Teori akuntansi positif ingin menjelaskan “why acounting is what it is, why accountant do what they do”

Sekian.