Studi tentang Supply Chain Management  selama ini lebih banyak menitikberatkan pada aspek logistik, produksi, sistem informasi, dan strategi. Namun hanya sedikit studi yang menitikberatkan pada faktor manusianya (Human Resource Management).

Ada dua tipe kaitan antara SCM dan HRM. Pertama, tentang aplikasi, praktek, dan teori HRM di dalam suatu perusahaan dalam mengelola SC. Kedua tentang aplikasi, praktek, dan teori HRM antar perusahaan dalam mengelola SC. (Koulikoff and A Harrison, 2007).

Riset terkait Supply Chain Management (SCM) yang berhubungan dengan Human Resource Management (HRM) masih sedikit. Terhitung sejak tahun 1997 hingga tahun 2006 hanya ada 8 penelitian saja (atau kurang lebih 2 persen) dari sekitar 405 penelitian SCM  (Giunipero, et al., 2008).

Review atas artikel dan penelitian SCM dilakukan oleh Giunipero et al. (2008 ) sebanyak 405 articles dari 9 penerbit journals (1997-2006). Burges et al. (2006) mereview sebanyak 614 articles dari 31 penerbit journals (1985-2003). Carter & Ellram (2003) mereview sebanyak 774 articles dari 1 penerbit journal (1965-1999). Rungtusanatham et al. (2003) mereview sebanyak 285 articles dari 6 penerbit journals (1980-2000). Dan Croom et al. (2000) mereview sebanyak 84 articles dari berbagai journals, books, conference proceedings, tanpa menyebutkan periode waktunya. (Giunipero et al., 2008).

Supply Chain Business Process adalah terintegrasi dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Banyak komponen yang terlibat di dalam suatu Supply Chain, dan efektifitas ditentukan oleh bagaimana distrukturisasi dan dikelola dengan baik. Aliran material dan informasi juga memainkan peran penting dalam disain dan pengelolaan Supply Chain. Setiap langkah dalam aliran tersebut mempengaruhi seluruh proses bisnis Supply Chain (Manzini et al., 2005).

Organisasi-organisasi yang terlibat dalam Supply Chain terdorong untuk mestrukturisasi dan merekayasa ulang efektifitas Supply Chain. Untuk merealisasikannya perlu melihat kepada lingkugan luar organisasi dan mengevaluasi bagaimana “suppliers and customers can be utilised to create exceptional value”  (Soosay et al., 2008).

Terkait dengan interaksi antar pihak-pihak yang terlibat dalam SC seperti pemasok, pabrik, distributor, dan pengecer,  semakin menunjukkan tantangan. Oleh karena itu pengelolaan SC yang efisien dan sinergis, menjadi pertimbangan sumber keunggulan bersaing (Hult et al., 2007).