Pada pertengahan tahun 2008 lalu, Indonesia masuk dalam 6 besar daftar negara dengan jumlah pelanggan telekomunikasi seluler terbanyak. Jumlah pelanggan telekomunikasi seluler di tanah air tersebut mencapai 116 juta, dan berada di posisi ke-6 sebagai negara yang mempunyai pelanggan telekomunikasi seluler paling banyak. Dari urutan teratas ditempati China (585 juta), India (291 juta), Amerika Serikat (259 juta),  Rusia (172 juta), Brasil (134 juta), Indonesia (116 juta), Jepang (103 juta), Jerman (103 juta), Italia (90 juta), Pakistan (86 juta) (Wireless Intelligent, 2008).

Hingga saat ini di Indonesia telah hadir lebih dari 11 operator telekomunikasi antara lain Telkom, Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, Hutchison,  Sinar Mas, Sampoerna,  Bakrie Telecom, Mobile-8, dan Natrindo. Pelaku dalam industri telekomunikasi selular tidak banyak sebagaimana halnya dalam struktur pasar yang bersaing sempurna (perfect competition), yang didalam praktek struktur pasar persaingan sempurna jarang ditemui. Struktur pasar oligopoli adalah ciri dari industri telekomunikasi di seluruh dunia (Sri Adiningsih, 2007).

Soosay et al., (2008) meneliti pentingnya kolaborasi yang merupakan salah satu unsur pendukung keunggulan bersaing.  Ang  dan Michailova  (2006) meneliti model kolaborasi berupa aliansi strategis  yang dilakukan oleh perusahaan multinasional yang membuka kantor usaha di negara lain.  Sedangkan Dyer (1997) meneliti pentingnya kolaborasi antar organisasi dalam rangka mencapai efektifitas organisasi.

Dalam Industri Telekomunikasi Selular, kolaborasi antar organisasi adalah hal yang selalu dilakukan. Setiap perusahaan memiliki Strategi Kolaborasi dan Disain Organisasi Modular yang keduanya diperlukan untuk mencapai Efektivitas Organisasi dan Keunggulan Bersaing Berkelanjutan.

Sebagai contoh di PT Telkom Tbk, terjadi perubahan disain organisasi, arah bisnis, hingga teknologi yang digunakan. Perubahan atau transformasi yang dilakukan PT Telkom Tbk bertujuan untuk meningkatkan Efektifitas Organisasi untuk mencapai Keunggulan Bersaing Berkelanjutan. PT Telkom Tbk menerapkan Strategi Kolaborasi dengan  beberapa Perusahaan Penyedia Menara Telekomunikasi melalui pola sewa menara.

Demikian pula yang terjadi pada PT Bakrie Telecom, Tbk yang mengalami pertumbuhan pelanggan yang menakjubkan setelah menerapkan beberapa Strategi Kolaborasi, antara lain dengan produsen handphone Huawei dalam rangka mengeluarkan bermacam-macam paket handphone murah. Juga melakukan Strategi Kolaborasi dengan melakukan sewa menara telekomunikasi kepada Perusahaan Penyedia Menara Telekomunikasi.

PT Mobile-8 Telecom Tbk, yang sebelum tahun 2006 sebagai penyedia jaringan dan jasa telekomunikasi, melakukan Strategi Kolaborasi melalui merger terhadap ketiga perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi yang dimilikinya sehingga melebur menjadi satu nama sekaligus sebagai penyedia jasa dan penyedia jaringan telekomunikasi. Dalam hal penyewaan menara telekomunikasi, PT Mobile-8 Telecom melakukan Strategi Kolaborasi dengan pola sewa kepada Perusahaan Penyedia Menara Telekomunikasi bahkan menjual sekitar 200 unit menaranya kepada salah satu Perusahaan Penyedia Menara Telekomunikasi.

Sedangkan PT Excelcomindo, Tbk menyatakan bahwa salah satu aspek penting dalam Strategi Bisnis dan Pengembangan Organisasi yang dilakukannya adalah dengan membuat sebuah anak perusahaan yang bergerak dalam bidang Penyediaan Menara Telekomunikasi, untuk menampung 7.000 unit menara yang dimilikinya menjadi suatu entitas bisnis terpisah.

Dengan demikian, perusahaan-perusahaan telekomunikasi telah melakukan kolaborasi dengan para supplier barang dan jasa, seperti vendor equipment, vendor material promotions, maupun vendor perangkat lunak. Dan dari sisi output  perusahaan-perusahaan telekomunikasi berhubungan dengan para vendor logistic misalnya yang mendistribusikan promotions material dan memberikan layanan telekomunikasi selular yang berkualitas kepada para pelanggannya.