Kolaborasi adalah hubungan antar organisasi yang saling berpartisipasi dan saling menyetujui untuk bersama mencapai tujuan, berbagi informasi, berbagi sumberdaya, berbagi manfaat, dan bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan bersama untuk menyelesaikan berbagai masalah (Gray and Hay 1986; Ring and Van de Ven, 1994; Spekman et al. 1998; Stank et al., 1999; Philips et al. 2000; Barrat and Oliveira 2001). Kolaborasi didasarkan pada saling percaya, keterbukaan, berbagi resiko dan manfaat, dalam meningkatkan keunggulan bersaing untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik disbanding bila tidak berkolaborasi (Hogart-Scot, 1999). Saat ini makin banyak perusahaan yang berkolaborasi karena pasar yang semakin beragam, harga yang saling bersaing, dan siklus hidup produk yangs semakin singkat (Sossay et al., 2008).

 

Sosay et al. (2008) meneliti hubungan antara kolaborasi dengan inovasi berkelanjutan. Kolaborasi ditentukan pula oleh kompetensi skill dan expertise para partner.  Kolaborasi penting untuk meningkatkan inovasi berkelanjutan sebagaimana para partner menyadari keuntungan dari inovasi seperti kualitas tinggi, biaya rendah, pengiriman tepat waktu, oeprasi yang effisien, dan koordinasi yang efektif. 

Menurut Sossay et al. (2008), terdapat 5 tipe kolaborasi ; (1) Strategic Alliances, yaitu apabila dua atau lebih organisasi saling bekerjasama dan berbagi sumberdaya, pengetahuan, dan kapabilitas dengan tujuan meningkatkan keunggulan bersaing para partner. Aliansi Strategis dapat digunakan untuk menemukan teknologi baru, penetrasi pasar baru, memperoleh pengetahuan dari pemimpin industri.

(2) Joint Ventures, (3) Cooperative Arrangements, (4) Virtual Collaboration, dan (5) Integration.

 

Sossay et al. (2008) menggunakan multiple case study. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan menguji hubungannya mengunakan cross-case analysis dengan semi-structured interview  kepada sejumlah 23  interview terhadap 10 perusahaan logistics, baik kepada senior manager maupun middle manager yang didasarkan pada purposive sampling.

 

Temuan studi ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang diteliti telah menerapkan operasi yang distandarisasikan dan mendokumentasikannya dalam prosedur operasi standar (SOP). Pertemuan reguler dengan suppliers dan customers dilakukan untuk melakukan pembaharuan dan perbaikan prosedur, misalnya bila ada perubahan lingkungan dan teknologi.

 

Disamping itu  Perusahaan-perusahaan yang diteliti memiliki juga berbagai kegiatan perencanaan bersama dengan suppliers dan customers, baik dalam pemasaran maupun manajemen persediaan. Termasuk dalam perencanaan penjualan, lauching produk baru, menentukan batas persediaaan, perencaan skedul produksi. Kegiatan lain yang dilakukan adalah Sharing Knowledge, Sharing Process, Joint Investing, Synchronising and Interfacing.

 

Temuan studi ini juga menunjukkan bahwa telah terjadi kolaborasi pada sepuluh perusahaan yang diteliti. Para managers memberikan penjelasan dan contoh bagaimana perusahaan terintegrasi dengan suppliers dan customers. Mereka juga menyusun prosedur dalam berhubungan dengan para partners, dalam berbagi pengetahuan dan proses, berbagi perencanaan bersama, perencanaan operasi, dan sistem dan proses.