Dari beberapa pembahasan literature filsafat ilmu pengetahuan tampak adanya lompatan priode dari priode Yunani ke priode skolastik Eropa lalu ke priode Renaissance dan seterusnya, tanpa membahas atau mengakui adanya beberapa tokoh pemikir muslim yang memiliki peran dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai perimbangan pengetahuan mengenai “missing link” dalam sejarah filsafat ilmu pengetahuan adalah perlu juga memahami kontribusi pemikir pemikir muslim atau kita sebut muslim scientist. Adapun yang dimaksud adalah muslim scientist yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan science modern.

Dari ratusan muslim scientis sejak abad 600M hingga 1200M maka dibawah ini akan diceritakan 3 diantaranya. Diambilnya tiga tokoh dibawah ini karena kontribusi mereka dalam mendahulukan metode penelitian dengan menggunakan matematika, observasi, bahkan pengujian empiris dalam memperoleh kebenaran atau ilmu pengetahuan. Juga mewakili pemikir muslim pada tahun 800an, 900an, dan 1000an Masehi.

Yang pertama patut disebut adalah Alkindi atau Abu Yusuf Yakub bin Ishaq Alkindi. Beliau lahir pada tahun 809M di Kufah dan wafat pada tahun 866M.

Adapun beberapa pendapat-pendapatnya antara lain adalah :
(1) Logika adalah perlu sebagai persiapan sebagai seorang filsuf, tapi matematika lebih penting. Baginya, penalaran matematis lebih fundamental dibanding logika.
(2) Empat unsur penting adalah tanah, angin, api, air. Walaupun pada masa itu berpendapat bahwa empat unsur utama itu tidak dapat terbagi bagi lagi pada pembagian terkecilnya, namun menyatakan bahwa nasib terakhir unsur tetap ditangan Tuhan, yang akan membuatnya abadi apabila berkehendak demikian.
(3) Bahwa efektifitas suatu obat obatan campuran tergantung atas hubungan matematis antara bahan bahan obat itu.

Alkindi Menghasilkan karya puluhan buku dan ratusan artikel meliputi astronomi, meteorologi, pengobatan, geometri, ilmu hitung, logika. Banyak karyanya juga mengomentari filsuf Yunani. Beberapa pengakuan ilmuwan barat antara lain dari tokoh Gronimo Cardano dan Roger Bacon.

Tokoh kedua yang perlu dijelaskan disini adalah Almuqaddasi yang lahir pada tahun 946M. Pada tahun 985M menerbitkan buku yang merupakan kumpulan tulisan pengamatannya tentang adat istiadat, aktivitas perdagangan, maupun matauang yang berlaku di suatu negara dan pemetaan topografinya.

Objek pengamatannya adalah populasi, keragaman etnik, kelompok sosial, pendpatan masyarakat, sumberdaya mineral, arkeologi, dan mata uang yang digunakan. Masalah fiskal, mata uang dan fluktuasinya juga menjadi perhatiannya. Juga kondisi masyarakat urban, evolusinya, keberagamannya, kompleksityasnya merupakan daya tarik yang membuat dia menuliskannya. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, penelitian, dan pengumpulan data, lalu menuliskannya dalam sebuah karya.

Karya monumentalnya adalah Ahsanul Tagosim fi Makrifatil Agolim (The best divisions for knowledge of the regions) yang manuskripnya dipopulerkan oleh Aloys Sprenger ilmuwan Jerman pada tahun 1800an Masehi. Juga A Miguel sejarawan Perancis merangkum karya Almugaddasi.

Tokoh ketiga yang bisa disebut dan ditampilkan disini adalah Albiruni Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Albiruni yang lahir tahun 973M di Turkmenistan sekarang, dan wafat tahun 1048M. Beliau adalah ahli filsafat, astronomi, fisika, juga kedokteran. Tidak diketahui pasti berguru pada siapa, tapi dipengaruhi pemikiran filsafat Alkindi, Alfarabi, dan Almas’udi. Beliau bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud Algezna menuju dan membuka india sebagai basis baru kawasan pengembangan agana Islam utk wilayah timur.

Adapun beberapa Pendapat-pendapatnya: adalah sebagai berikut:
(1) Bahwa gerak eliptis lebih mungkin bagi garis edar planet dibanding gerak melingkar.
(2) Bahwa cahaya lebih cepat dari suara,
(3) Bahwa benda tidak dapat dibagi terus menerus karena akan ada suatu kondisi tidak dapat dibagi lagi,
(4) Melakukan pengukuran jenis berat berbagai zat dan bahwa seluruh benda tertarik ke bumi,
(5) Rotasi bumi terjadi di sekeliling sumbunya,

Pendapat-pendapat tersebut juga disampaikannya dalam berdiskusi dan dalam surat suratnya maupun dalam perdebatan dg Ibnu Sina. Adapun karya-karyanya antara lain: Aljamahir, Alatsarul bagiyah, dan lebih dari 100 buah artikel. Sedangkan pengakuan ilmuwan barat terhadap Albiruni antara lain oleh Max Mayerhof dan JN Sircar, sejawaran India.

Sekian.