Dalam pembahasan Filsafat Ilmu Pengetahuan dalam kaitan dengan metodologi penelitian, kita mengenal dua aliran, yaitu positivist dan non positivist. Positivisme adalah paham yang dianut secara mainstream (mayoritas) sedangkan non-positivisme dianut oleh sedikit peneliti atau ilmuwan, walaupun akhir-akhir ini semakin banyak pendukung aliran non-positivisme ini.

Perkembangan epistemologi kaum positivis dapat dikelompokkan sebagai berikut :
• Naïve Induktif
• Logical Positivism (Vienna Circle)
• Logical Empiricism (Carnap)
• Falsificationism (Karl Popper)
• Scientific Revolution (Thomas Kuhn)
• Research Programme (Imre Lakatos)
• Epistemological Anarchy (Paul Feyeraband)

Berikut ini akan diberikan penjelasan pasang surut positivisme dari sangat positiv (naive induktif) sampai kepada anarkisme yang didengungkan Feyerabend.

1. Naïve Induktif
Menurut inductivism, ilmu adalah pengetahuan yang diturunkan dari fakta-fakta pengalaman. Scientific knowledge is proven knowledge. Teori-teori ilmiah diturunkan dari fakta-fakta pengalaman yang diperoleh melalui observasi dan eksperimen. Ilmu pengetahuan didasarkan pada apa yang dapat kita lihat,dengar dan raba. Opini pribadi dan spekulasi tidak mempunyai tempat dalam science. Ilmu adalah obyektif. Scientific knowledge is reliable knowledge because it is objectively proven knowledge.

Pandangan ilmu seperti ini merupakan konsekuensi dari scientific revolution yang terjadi selama abad 17 dan dipelopori oleh Galileo dan Newton. Francis Bacon juga menyatakan bahwa perilaku scientific pada saat itu bisa dinyatakan bahwa jika kita ingin memahami alam (nature), maka kita harus mencari jawabnya di alam tersebut bukan pada tulisan Aristoteles.

Menurut Naïve Induktif ilmu bermula dari observasi, individu yang melakukan observasi harus normal tidak mempunyai cacat indera dan harus mencatat setiap apa yang ia lihat, dengar terhadap apa yang diobservasi dan ini dilakukan tidak dengan prejudice mind. Pernyataan tentang keadaan dunia bisa dibenarkan atau dipandang benar dengan cara langsung melalui observasi dengan indera. Pernyataan yang dihasilkan dari observasi ini kemudian sebagai dasar untuk membentuk hukum-hukum atau teori

Jika ilmu pengetahuan didasarkan dari pengalaman, maka dengan cara bagaimana suatu penyataan singular yang berasal dari observasi menjadi penyataan universal yang akan membentuk ilmu pengetahuan ?

Jawaban aliran induktif adalah jika kondisi tertentu dipenuhi maka bisa dibenarkan melakukan generalisasi dari pernyataan singular dari observasi terbatas menjadi hukum universal. Misalkan dengan pengamatan terbatas terhadap besi/metal yang dipanaskan akan menciptakan hukum yang menyatakan bahwa “metal akan memuai jika dipanaskan”

Kondisi tertentu yang harus dipenuhi untuk dapat menarik kesimpulan menjadi hukum universal adalah:
A. Jumlah pernyataan observasi yang digunakan sebagai dasar generalisasi harus besar.
B. Observasi tersebut harus diulang-ulang dengan berbagai kondisi yang berbeda
C. Pernyataan observasi yang diterima tidak boleh bertentangan dengan hukum universal yang dihasilkan dari pernyataan tersebut

Cara berpikir di atas disebut dengan penalaran induktif dan prosesnya disebut induksi. Jadi ilmu pengetahuan itu didasarkan pada prinsip induksi yang dapat didefinisikan: Jika dalam jumlah yang besar A telah terobservasi dalam kondisi yang berbeda dan jika semua A yang telah terobservasi tersebut tanpa kecuali memiliki property B, maka semua A memiliki property B

2. Logical Positivism:
Selama tahun 1920an positivisme telah berkembang menjadi filsafat ilmu dalam bentuk positivisme logis (logical positivism). Kelompok ini dikembangkan oleh Lingkaran Vienna (Vienna Circle) yang merupakan kelompok ilmuwan dan filosof yang dipimpin oleh Moritz Schlick. Logical positivism menerima doktrin utama verification theory of meaning yang dikembangkan oleh Wittgenstein. Teori verifikasi menyatakan bahwa penyataan (statement) atau proposisi memiliki arti hanya jika mereka dapat diverifikasi secara empiris. Kriteria ini digunakan untuk membedakan antara pernyataan scientific (meaningful) dan pernyataan metafisis (meaningless)

Dalam perkembangannya positivisme logis memgalami problem induksi. Menurut positivisme logis suatu pernyataan scientific dinyatakan benar jika mereka dapat membuktikan secara empiris- padahal tidak ada jumlah tes empiris yang pasti yang akan menjamin kebenaran suatu pernyataan universal. Oleh sebab itu inferensi induktif tidak dapat dibenarkan hanya atas dasar logika.

3. Empirical Positivism
Untuk mengatasi problem logical positivism, Carnap mengembangkan positivisme yang lebih moderat dan sering disebut Empirisme Logis. Pandangan ini mendominasi pemikiran selama 20 tahun dan mengalami penurunan dalam tahun 1960an walaupun pengaruhnya masih sangat kuat sampai saat ini.

Carnap mengganti konsep varifikasi dengan konfirmasi yang makin meningkat secara gradual. Menurut Carnap jika verifikasi berarti complete and definitive establishment of truth,maka pernyataan universal tidak akan pernah dapat diverifikasi, tetapi mungkin dapat dikonfirmasi dengan keberhasilan tes-tes empiris

4. Falsification (Karl Popper)
Popper tidak menyetujui induksi untuk menemukan benar atau tidaknya suatu teori. Yang penting adalah tahan uji atau tidak, bukan benar atau salah. Kalau kaum induktivist berpendapat bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara akumulatif dari sedikit demi sedikit, maka menurut Popper ilmu berkembang melalui falsifikasi. Teori hanya bisa mendekati kebenaran, tapi tidak bisa benar-benar benar.

Menurut Popper, baik memverifikasi maupun mengkonfirmasi suatu teori itu mudah, tapi membuktikan bahwa teori itu salah (falsified) itu yang lebih penting. Rational scientific method is to propose a hypotheses as a conjecture then try to work out experimental ways to refuse the hypotheses. Theories are discovered by trial and error (conjecture & refutation) rather than through inductive accumulation of evidences. Theories can never attain certainty. .Itulah sebabnya Popper membedakan antara Genuine Science dengan Pseudo Science, atau antara critical dan dogmatic.

5. Scientific Revolution (Thomas Kuhn)
Thomas Kuhn menyatakan bahwa perubahan dari suatu teori ke teori yang baru itu saling beradu argument dan saling serang sampai terjadi revolusi ilmu pengetahuan (seperti revolusi politik). Jadi kebenaran ilmu pengetahuan itu adalah yang disepakati oleh orang banyak (nirmal science).

Dimulai dari Prescience -> normal science (paradigma) -> anomaly -> krisis

Maka akan muncul paradigma baru atau normal science baru, lalu terjadi anomaly, lalu krisis lagi, demikian seterusnya. Suatu paradigma berisi:
• Set of theory
• Shared assumption
• Ways of working
• Set of textbook
• Problem and solution.

6. Riset Program (Imre Lakatos)
Lakatos memperbaiki teori Popper. Develop a more sophisticated version of Popper view. Lakatos menjelaskan mengapa suatu teori yang sudah salah (falsified) tapi masih dipakai. Dijelaskan melalui pemahaman Riset Program.

Ada 5 prinsip pokok Riset Program.
1. Riset program memiliki hardcore
2. Hardcore tidak bisa disalahkan (falsified). Hrdcore merupakan negative heuristic,
3. Hardcore dilengkapi dengan hipotesis tambahan, yang bisa disalahkan.
4. Hipotesis tambahan ini meupakan positive heuristic
5. Progressif artinya masih bisa dipakai menemukan hal-hal baru. Atau Degeneratif artinya tidak bisa dikritik lagi.

Suatu Riset Program memiliki Hardcore dan Auxilliary Hypoyheses. Hardcore merupakan inti dari suatu theory sedangkan sisanya adalah hipotesis tmbahan saja.
Tampaknya Riset Program menurut Lakatos sama dengan Paradigma menurut Kuhn.

7. Epistemologi Anarkisme (Feyerabend)
Paul Feyerabend dalam bukunya Against Methods menyatakan bahwa the only principle is anything goes. Jadi tidak ada keharusan menggunakan metode induksi atau metode deduksi saja, tapi yang penting adalah mengadopsi pluralistic methodology.

Sekian.