Kemarin sore, saya dan teman saya yang bekerja di perusahaan telekomunikasi, diundang buka puasa oleh teman kami yang sekarang menjadi pemilik sekaligus presiden direktur sebuah perusahaan logistik swasta Indonesia. Terakhir saya bertemu dengannya tahun lalu saat dia memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan sebuah perusahaan logistik tempatnya mengabdi selama sepuluh tahun. Ada perbedaan prinsip dengan  pemilik perusahaan katanya.

 

Waktu itu saya hanya mengatakan pada dia agar bersabar bila tidak bekerja lagi karena saya juga tidak bisa memberinya pekerjaan yang sejenis dengan sektor logistik seperti itu. Yang saya bisa tawarkan waktu itu sebagai dosen tamu untuk mengisi beberapa kali pertemuan di kuliah perekonomian di Universitas tempat saya mengajar atau bila dia mau, dapat mengisi seminar-seminar manajemen dan bisnis di berbagai kota, mungkin untuk sementara dapat memberikan tambahan pendapatan baginya. Namun dia menolak karena menganggap tidak bakat menjadi pengajar dan terkesan menggurui orang lain.

 

Seperti biasa kami mengawali buka puasa dengan kurma dan air putih. Kurma yang disajikan sangat bagus dan manis sekali, kurma impor katanya. Dari tempatnya tumbuh kurma ini mengalami perjalanan cukup panjang. Setelah dipanen tentunya dilakukan packaging dan dibungkus dalam kondisi siap ekspor dalam bentuk palet palet. Dari pusat aktivitas pergudangan (warehousing) kurma di negara lain tersebut, palet-palet kayu membungkus paket kurma lalu dinaikkan ke dalam truk-truk yang siap mengantar (trucking) ke pelabuhan untuk dinaikkan ke kapal laut. Tentu disana melalui proses sejenis bea cukai dan diperiksa, lengkap dengan dokumen pengiriman dan dokumen pelayarannya sehingga memudahkan pengiriman dengan kapal laut itu (shipping).

 

Sesampainya di sini juga akan diproses di bea cukai sebagai standar pemeriksaan impor barang sehingga kurma dapat dikeluarkan dari pelabuhan disini (clearing) untuk diangkut dengan truk-truk ke gudang-gudang penampungan di sini. Dan masih ada lagi aktivitas pembongkaran di gudang (unpacking) untuk dibungkus kecil-kecil dan didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia untuk sampai ke tangan konsumen dan tersedia di meja makan seperti ini.

 

Ternyata proses logistik sebuah kurma  ini cukup panjang. Bermula dengan dikumpulkan di gudang perkebunan untuk dipaket di pusat pergudangan negara tersebut, lalu dikirim dengan truk truk ke pelabuhan untuk diproses pengiriman dengan pelayaran. Selanjutnya melewati lautan sampai di pelabuhan Indonesia dan diproses pengeluaran barangnya. Masih harus dikirim ke gudang pembeli untuk dibuat dalam bentuk paket kecil kecil dan disesuaikan dengan ukuran penjualan di took-toko. Setelah itu masih harus  didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia dengan jalan darat menggunakan truk truk.

 

Ayo kita solat dulu, ajakan dia membuyarkan lamunan saya tentang proses logistik kurma ini. Rupanya selama saya melamunkan proses pengangkutan kurma tadi dia hanya dilayani berbicara oleh teman saya yang bekerja di perusahaan telekomunikasi tadi. Setelah mengambil air wudhu kami bertiga solat berjamaah di ruangan musola rumah dia yang cukup asri di kompleks rumah menegah atas di kawasan Cibubur. Setelah itu kami menikmati makan buka puasa ikan laut dan sayur asem, kami bertiga mengambil selera yang sama yaitu ikan laut dan sayur asem, tidak mengambil daging berlemak dan telur yang disjikan, saya pikir kami bertiga ini sama sama berniat mengurangi kadar kolesterol.

 

Sambil makan menghadapi  meja makan kayu jati yang diplitur dengan ornament antik kami duduk di kursi yang berbusa empuk dilapisi kulit. Dia mulai bercerita mengingat pengalaman bekerja selama ini telah sepuluh tahun bekerja sebagai karyawan berkecimpung di sektor logistik. Sudah ada 4 kali pergantian pemerintahan sejak reformasi 1998 lalu. Dimulai dari pemerintahan Habibie, Gus Dur, Megawati, dan kini SBY. Sejak dulu sampai sekarang sektor pengangkutan tetap ramai. Jalur distribusi dari produsen atau pabrikan tetap membutuhkan pengangkutan dengan baik dan cepat agar barang dapat sampai ke tangan konsumen dalam keadaan lengkap dan tepat waktu. Demikian pula teman saya yang bekerja di perusahaan telekomunikasi juga bercerita telah sepuluh tahun bekerja sebagai karyawan yang menyatakan sampai saat ini sektor komunikasi masih diminati baik dari sisi perusahaan telekomunikasi yang diperebutkan oleh asing, hingga sisi perusahaan perdagangan handphone yang terus dibanjiri dengan hape tipe tipe terbaru berbagai merk.

 

Teman saya yang logistician menggunakan hape communicator tipe terbaru dari merk terkenal. Dan teman saya sebagai engineer telekomunikasi menggunakan hape tipe pda terbaru dari merk terkenal juga. Masing-masing diletakkan di atas meja dekat piring, mungkin bersiap bila ada sms atau telepon masuk, mengingat kesibukan mereka membutuhkan komunikasi yang baik dan cepat. Saya juga menggunakan 2 hape dengan merk yang sama dari mereka berdua, namun tentu dengan feature secukupnya saja, sehingga harganya rendah.

 

Setelah makan kami duduk di teras depan sambil makan buah dan menikmati angin malam yang bertiup dari berbagai pohon besar di jalan komplek perumahan dan sesekali memandangi tanaman di halam rumahnya yang cukup luas, yang dibatasi dengan carport tempat mobil Sebagai pengajar matakuliah ekonomi saya harus membaca fenomena ini lebih luas dari sekedar pelaku ekonomi. Saya dapat menjadi pengamat, sekaligus dapat memberikan tambahan diskusi yang menarik. Di kelas saat saya memberikan kuliah sering menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan akan lebih menarik bila pembicaraan saya disertai dengan angka-angka untuk menunjukan indikator perekonomian. Apalagi ditambah gambar dan grafik akan lebih menarik.

 

Mengenai tabel angka dan grafik, yang cenderung mematematikakan masalah ekonomi ini masih menjadi bahan perdebatan para ekonom. Ada yang menganggap itu terlalu menyederhanakan permasalahan ekonomi ke dalam angka dan grafik sehingga meninggalkan aspek moralitasnya, dan sebagian yang lain berpendapat justru dengan adanya angka dan grafik menjadikan perekonomian dapat diketahui dan diprediksi dari suatu model matematika yang dibuat. Saya tidak terlalu mempermasalahkan kedua pihak ekonom yang berseteru mempertahankan pendapat masing-masing tersebut, yang penting saya punya bahan untuk berbicara dengan mereka professional telekomunikasi dan praktisi bisnis logistik ini. Menerangkan kepada mereka berdua yang telah menunggu apa yang akan saya ucapkan seperti menghadapi mahasiswa di kelas saja.

 

 

Dari tahun 2003 hingga 2007, dari 9 sektor indicator makroekonomi Indonesia, maka pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi selalu diatas sektor yang lainnya. Sektor pertanian tumbuh paling tinggi 3,8%(2003), sektor pertambangan paling tinggi 3,2%(2005) bahkan pernah negative selama 2003 dan 2004, sector industri pengolahan tumbuh paling tinggi tumbuh 6,4%(2004), listrik gas dan air bersih paling tinggi tumbuh 10,4%(2007), sector bangunan paling tinggi tumbuh 8,6%(2007), sector perdagangan hotel dan restoran paling tinggi tumbuh 8,5%,(2007), sector keuangan dan persewaan paling tinggi tumbuh 8,0%((2007), sector jasa jasa lain paling tinggi tumbuh 6,6%(2007), namun pertumbuhan sector pengangkutan dan komuniksi, yang paling rendahnya saja 12,2 %(2003) dan tertinggi tumbuh 14,4%(2007).

 

Pemerintah akan mengumumkan cetak biru  logistic untuk menjadi landasan pijakan bagi pengusaha Indonesia dalam menghadapi liberalisasi logistic 2015 nanti. Perbaikan sarana dan prasara terkait dengan sistem transportasi dan pergudangan sangat diperlukan untuk membantu jalannya sistem logistic yang paling efisien di Indonesia. Saya pikir ini sangat diperlukan karena kondisi sarana dan prasarana transportasi dan pergudangan di Indonesia saat ini belum cukup untuk mencapai tahap efisiensi.

 

Demikian pula pembangunan sektor komunikasi antara lain akan ditandai dengan target akses telekomunikasi untuk 38.000 desa terpencil melalui program USO (universal service obligation) yang membutuhkan dibangunnya 158.000 menara telekomunikasi dengan total investasi mencapai Rp.173Trilyun. Demikian pula dengan masuknya teknologi wimax, suatu teknologi nirkabel yang menawarkan mobilitas, diperkirakan pengguna akses internet pita lebar akan meningkat menjadi 50juta pengguna dalam 5 tahun kedepan dibanding saat ini hanya 1,5juta pengguna akses internet pita lebar (broadband).

 

Saya berusaha membuat penjelasan yang lebih sederhana sehingga memudahkan mereka memahami karena saya tidak berkecimpung di paraktek bisnis tapi saya bisa memberikan konsultasi bisnis dan perekonomian. Saya juga sedikit berusaha menjadi konsultan bisnis logistic dan telekomunikasi bagi mereka. Tampaknya mereka juga cukup puas bahwa secara rasional saya dapat memberikan penjelasan yang cukup masuk akal. Tampaknya pula mereka tidak bisa memberikan perbandingan yang lain yang berlawanan dengan yang saya jelaskan. Saya semakin merasa cukup diatas angin untuk segera pergi. Namun tak lupa saya berterima kasih atas undangan buka puasanya dan cerita cerita nostalgia kami bertiga.

 

Dalam perjalanan pulang diatas taxi dengan teman saya engineer telekomunikasi saya memikirkan dan  menganalisis lagi perbandingan antara sektor pengangkutan dan komunikasi yang telah saya jelaskan tadi. Dari perbandingan yang saya jelaskan ke mereka tadi sebagai informasi jangka pendek,  ternyata berbeda dengan analisis dan bayangan saya yang bersifat jangka panjang. Dalam suasana perekonomian yang penuh ketidakpastian memang dibutuhkan data dan informasi yang lebih banyak untuk menganalisis dan memprediksi suatu kejadian. 

 

Saya termasuk orang yang benar benar berharap bahwa pemerintah kita baik yang sekarang ataupun yang akan datang termasuk yang masih bisa membahagiakan kelompok masyarakat kelas pendapatan seperti saya dan dibawah saya, termasuk membahagiakan rakyat untuk masih bisa mudik dengan tariff pengangkutan murah namun tidak penuh sesak dan kondisi jalan raya yang tidak rusak. Termasuk berharap bagaimana pemerintah dapat mengakhiri monopoli penjualan avtur bahan bakar pesawat terbang, yang merupakan komponen tertinggi di industri penerbangan, sehingga dengan menurunnya harga avtur, dan saya dapat membeli tiket pesawat udara lebih murah, bila terpaksa pergi naik pesawat terbang.

 

Saya juga termasuk orang-orang yang berharap masih dapat berkomunikasi dengan pulsa yang murah tapi tidak putus putus sinyalnya, sehingga tidak perlu menganalisis dan membayangkan yang rumit rumit. Dan juga tidak perlu pusing-pusing memikirkan perang iklan antara perusahaan telekomunikasi yang cukup menguras sumberdaya mereka juga. Sebaiknya ‘sementara cooling down dulu’, demikian kata-kata pak Gatot S Dewobroto dari Ditjen Postel beberapa waktu lalu menanggapi perang iklan ini..

 

Jakarta, pertengahan bulan puasa 2008.