Peranan dan Metode Penelitian Ilmuwan Muslim
Oleh : Syeh Assery
Dari beberapa pembahasan literature filsafat ilmu pengetahuan tampak adanya lompatan priode dari priode Yunani ke priode skolastik Eropa lalu ke priode Renaissance dan seterusnya, tanpa membahas atau mengakui adanya beberapa tokoh pemikir muslim yang memiliki peran dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebagai perimbangan pengetahuan mengenai “missing link” dalam sejarah filsafat ilmu pengetahuan adalah perlu juga memahami kontribusi pemikir pemikir muslim atau kita sebut muslim scientist. Adapun yang dimaksud adalah muslim scientist yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan science modern.
Dari ratusan muslim scientis sejak abad 600M hingga 1200M maka dibawah ini akan diceritakan 3 diantaranya. Diambilnya tiga tokoh dibawah ini karena kontribusi mereka dalam mendahulukan metode penelitian dengan menggunakan matematika, observasi, bahkan pengujian empiris dalam memperoleh kebenaran atau ilmu pengetahuan. Juga mewakili pemikir muslim pada tahun 800an, 900an, dan 1000an Masehi.
Pasang Surut Positivisme
Oleh: Syeh Assery
Dalam pembahasan Filsafat Ilmu Pengetahuan dalam kaitan dengan metodologi penelitian, kita mengenal dua aliran, yaitu positivist dan non positivist. Positivisme adalah paham yang dianut secara mainstream (mayoritas) sedangkan non-positivisme dianut oleh sedikit peneliti atau ilmuwan, walaupun akhir-akhir ini semakin banyak pendukung aliran non-positivisme ini.
Perkembangan epistemologi kaum positivis dapat dikelompokkan sebagai berikut :
• Naïve Induktif
• Logical Positivism (Vienna Circle)
• Logical Empiricism (Carnap)
• Falsificationism (Karl Popper)
• Scientific Revolution (Thomas Kuhn)
• Research Programme (Imre Lakatos)
• Epistemological Anarchy (Paul Feyeraband)
Berikut ini akan diberikan penjelasan pasang surut positivisme dari sangat positiv (naive induktif) sampai kepada anarkisme yang didengungkan Feyerabend.
Sedikit tentang Filsafat Ilmu
Oleh : Syeh Assery
Manusia dalam memahami dunia sekelilingnya mengenal dua sarana:
1. Pengetahuan ilmiah (Scientific Knowledge): merupakan pengetahuan yang sistematis dengan berbagai hipotesis yang telah dibuktikan kebenarannya secara sah.
2. Penjelasan gaib (mystical explanation) atau metafisik (non-scientific knowledge) yang tak mungkin diuji sahnya untuk menjelaskan rangkaian suatu peristiwa.
Di antara rentangan pengetahuan ilmiah dan metafisis terdapat persoalan-persoalan ilmiah (scientific problem) yang merupakan kumpulan hipotesis yang dapat diuji tetapi belum secara sah dibuktikan kebenarannya.
-
Recent
- Politik : Komoditas atau Aktivitas?
- Contoh Kritik Artikel Jurnal
- Berkolaborasi Antar Organisasi
- Strategi Mempercepat Pemberdayaan UMKM
- Disain Organisasi Modular
- Mengukur Keunggulan Bersaing
- Mengukur Efektifitas Organisasi
- Kolaborasi Antar Organisasi
- Orientasi dalam Supply Chain
- Inovasi Berkelanjutan
- Memahami Kembali tentang Keunggulan Bersaing
- Organizational Culture
-
Links
-
Archives
- July 2009 (3)
- May 2009 (4)
- April 2009 (5)
- March 2009 (3)
- February 2009 (5)
- November 2008 (1)
- October 2008 (2)
- September 2008 (4)
- August 2008 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
