Global Management

building strong relationship and delivering best result

Politik : Komoditas atau Aktivitas?

(Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 3 Juni 2009).

Oleh:  S. Assery

1. Akhir-akhir ini tampaknya semua orang membicarakan perkembangan politik. Baik di warung kopi maupun di restoran mewah, baik siang hari dibawah terik matahari maupun malam hari di bawah bulan purnama. Baik anak muda maupun orang tua, pengangguran maupun yang padat kesibukan. Semuanya ingin ikut membicarakan perkembangan politik.

2. Politik sebenarnya tergantung dari bagaimana cara orang memandangnya. Apakah sebagai komoditas atau sebagai aktivitas. Dipandang sebagai suatu komoditas yang dikemas dan ditawarkan dengan ‘penyedap rasa’ isu-isu politis. Atau dipandang sebagai suatu aktivitas yang membutuhkan kerjasama berbagai pihak yang saling berkepentingan untuk mencapai tujuan bersama.

Read more »

July 23, 2009 Posted by globalmanagement | Management | | No Comments Yet

Contoh Kritik Artikel Jurnal

oleh :  S. Assery

Tulisan kritik jurnal ini dilakukan dengan argumentasi dari berbagai jurnal lain maupun argumentasi yang ada dalam buku teks. Jurnal dan buku text di dalam daftar referensi dijadikan sandaran pembahasan dalam penulisan kritik ini. Disamping itu juga akan dijadikan dasar perbendaharaan jurnal ilmiah dalam rangka penulisan proposal penelitian untuk disertasi yang sedang disusun penulis.

 1. Perumusan Masalah Penelitian

Peneliti mengutip beberapa pendapat (reserach gap) yang mengkaitkan penelitian bertema Management Control System (MSC). Seperti pendapat Simons (1995) yang memberikan penjelasan bahwa esensi Management Control System adalah untuk mengelola tensi antara inovasi kreatif dan pencapaian tujuan di satu sisi, dengan menyeimbangkan antara control dan flexibility di sisi lain. Dan telah terjadi perubahan peran sistem pengendalian manajemen (the role of MCS) yang semula sebagai formal control dan feedback system (Anthony 1965; Hoftstede, 1978), kini bergerser menjadi pendukung utama dalam perubahan organisasi, pembelajaran organisasi, dan inovasi (Atkinson et al., 1997; Kloot, 1997, dan Simons, 1990).

Read more »

July 22, 2009 Posted by globalmanagement | Organizational Behaviour | | No Comments Yet

Berkolaborasi Antar Organisasi

oleh:  S. Assery

Praktek dan penelitian manajerial telah banyak mengangkat tema-tema Budaya Organiasai, Strategi Kolaborasi, Organisasi Modular, Efektifitas Organisasi, dan Keunggulan Bersaing Berkelanjutan. Berbagai hasil penelitian tentang topik-topik tersebut ada yang kontradiktif maupun yang masih kurang mendalam dalam mengkaitkan hubungan beberapa konsep-konsep diatas.  Demikian pula banyak berbagai penelitian tersebut hanya menghubungkan satu atau dua konsep saja. Sedangkan penelitian yang menggabungkan sekaligus kelima konsep diatas dalam satu bangunan model teoritik belum ada.

 

Soosay et al., (2008) meneliti pentingnya kolaborasi yang merupakan salah satu unsur pendukung keunggulan bersaing.  O’Shannassy, (2008) memberikan penyegaran pemahaman mengenai keunggulan bersaing antara keunggulan bersaing berkelanjutan dengan keunggulan bersaing sementara. Keunggulan bersaing memberikan jalan terbentuknya kinerja organisasi yang kuat. Ang dan dan Michailova  (2006) meneliti model kolaborasi berupa aliansi strategis  yang dilakukan oleh perusahaan multinasional yang membuka kantor usaha di negara lain. Adapun Denison et al., (2004) meneliti hubungan budaya organisasi dan efektivitas organisasi. Schilling dan Steensma (2001) meneliti pentingnya Disain Organisasi Modular yang dihubungkan dengan Level Industrinya. Sedangkan Dyer (1997) meneliti pentingnya kolaborasi antar organisasi dengan transaksi nilai dan biaya dalam mencapai efektifitas.

Read more »

July 22, 2009 Posted by globalmanagement | Management | | No Comments Yet

Strategi Mempercepat Pemberdayaan UMKM

(dimuat di Harian Suara Merdeka, 27 Mei 2009).

Oleh : S. Assery

Dengan populasi sebanyak 49,8 juta atau 99 persen dari total unit usaha yang ada di Indonesia,  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dapat menyumbang 53,6% PDB Indonesia pada tahun 2007 lalu. Demikian pula banyaknya jumlah pekerja yang terserap UMKM ini mencapai 91,8 juta jiwa atau 97,3 persen terhadap seluruh  tenaga kerja Indonesia (BPS, Mei 2008).

Demikian pula Menteri Negara urusan Koperasi dan UKM dalam Rapat Kerja Komisi VI di DPR RI 11 Mei 2009 lalu mengemukakan bahwa diperkirakan perlunya modal sebanyak hampir 560 trilyun rupiah untuk UMKM. Jumlah tersebut dimanfaatkan oleh sekitar 51 juta unit UMKM di Indonesia atau sekitar 99% dari seluruh pelaku usaha nasional.

Dari sisi jumlah unit usaha, maka tampak besar sekali karena mencapai lima puluh juta unit usaha dan mencapai 99% dari total usaha yang ada di Indonesia. Namun tampaknya ada perbandingan yang tidak normal, dalam kriteria pelaku usaha tersebut dan cenderung terjadi pengelompokan yang tidak seimbang.

UMKM merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan berperan dalam proses peningkatan pendapatan masyarakat, bahkan dimasa krisis UMKM dikenal mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, namun masih banyak hambatan dan kendala yang dihadapi, baik internal maupun eksternal. Termasuk dalam hal produksi dan pengolahan, pemasaran, sumberdaya manusia, desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha.UMKM selama ini sering dihadapkan pada kesulitan mengakses sumber permodalan, penyediaan agunan, dan informasi mengenai produk atau fasilitas kredit perbankan.

 Bagaimanakah sebaiknya langkah-langkah untuk mempercepat pemberdayaan UMKM?

  Read more »

May 29, 2009 Posted by globalmanagement | Economics | | No Comments Yet

Disain Organisasi Modular

Oleh :  S. Assery

Kemajuan teknologi dan globalisasi telah mendorong perubahan peta persaingan antar organisasi. Untuk dapat survive organisasi harus membangun kompetensi inti dan mengembangkan human capital yang dapat menyediakan fleksibiltas dalam berstrategi (Barney, 2007).

 Salah satu cara memenuhi fleksibilitas ini adalah dengan mendelegasikan pekerjaan baik internal organisasi (kedalam) maupun eksternal organisasi (keluar). Dengan kata lain, organisasi perlu membagi-bagi beberapa aspek aktifitas ke dalam modul-modul pekerjaan tertentu yang dapat dikerjakan oleh pihak lain di luar organisasi.

Disain Organisasi Modular diperlukan apabila organisasi mulai mengalihkan beberapa aktifitas pentingnya dalam suatu bentuk struktur yang tetap, terintegrasi, dan ketat. Sebagai contoh organisasi mengalihkan pekerjaan manufaktur kepada pihak diluar organisasi dan bukan dikerjakan di dalam organisasi.

Disamping itu adanya heterogenitas input dan permintaan juga menyebabkan diperlukannya Disain Organisasi Modular.

Ada tiga indikator Disain Organisasi Modular yaitu; contract manufacturing, alternative work arrangements, dan alliance formation (Schilling and Steensma, 2001).

May 29, 2009 Posted by globalmanagement | Organizational Behaviour | | No Comments Yet

Mengukur Keunggulan Bersaing

Oleh : S. Assery

Barney (2007) menyatakan Sustainability Competitive Advantage dapat diperoleh dengan melakukan proses penemuan terus menerus yang akan berlanjut kepada inovasi. Proses ini akan berjalan dengan baik bila terlebih dulu membangun kompetensi inti organisasi yaitu sumberdaya dan kapabilitas.

Salah satu cara mengidentifikasi kompetensi inti adalah dengan Value Chain Analysis. yang merupakan analisis terhadap aktifitas pokok dan aktifitas pendukung yang terjadi baik di dalam maupun diluar organisasi. Primary activities terdiri dari service, marketing, sales, dan outbound logistics. Sedangkan support activities terdiri dari firm’s infrastructure, human resource management, technological development, dan procurement  (Barney, 2007).

Barney (2007) menyatakan bahwa sebuah perusahaan mencapai keunggulan bersaing  bila perusahaan menerapkan value creating strategy yang pada saat yang sama tidak dilakukan oleh perusahaan lain. Keunggulan bersaing merupakan sumber yang utama untuk menghasilkan perbedaan dalam laba antara perusahaan dalam sebuah industri menekankan issue mengenai posisioning stratejik dalam bentuk pilihan antara keunggulan biaya dan diferensiasi.

 Augusty (1999) menyatakan bahwa ada tiga indikator Keunggulan Bersaing Berkelanjutan, yaitu Durabilitas, Imitabilitas, dan Kemudahan Menyamai. Durabilitas menunjukan seberapa lama dapat bertahan superioritas aset-aset stratejik organisasi dan kinerja keberhasilan organisasi. Imitabilitas menunjukkan seberapa sulit pesaing meniru keunggulan bersaing organisasi. Sedangkan Kemudahan Menyamai menunjukkan seberapa mudah pesaing menyamai aset-aset stratejik organisasi.

Walaupun mudah menyamai aset stratejik organisasi lain, namun belum tentu dapat meniru keungulan bersaing yang telah ada, apalagi bila dilihat seberapa lama mampu mempertahankan keunggulan bersaing .

May 29, 2009 Posted by globalmanagement | Management | | No Comments Yet

Mengukur Efektifitas Organisasi

Oleh : S. Assery

Jones (2004) mengajukan tiga pendekatan dalam mengukur efektifitas organisasi; yaitu external resource approach, internal system approach, dan technical approach.

Pendekatan external resource dilakukan dengan mengevaluasi kemampuan organisasi dari sisi ability to secure, manage scarce skill and resources, dan control scarce skill and resources. Dalam pendekatan external resource ini digunakan 5 dimensi pengukuran yang terdiri dari: pertama lower cost of inputs, kedua obtain high quality inputs of raw materials and employees, ketiga increase market share, keempat increase stock price, kelima gain support of stakeholders seperti dari government dan environmentalist.

Pendekatan  internal system dilakukan dengan mengevaluasi kemampuan organisasi dalam inovasi dan responsifnya Dalam pendekatan internal system ini ada 5 dimensi pengukuran yang terdiri dari; pertama cut decision making time, kedua increase rate of product innovation, ketiga increase coordination and motivation of employee, keempat reduce conflict, dan kelima reduce time to market.

Sedangkan pendekatan technical dilakukan dengan mengevaluasi kemampuan organisasi dalam mengkonversi skill dan resources yang dimiliki dalam efisiensi barang dan jasa yang dihasilkan. Dalam pendekatan technical ini ada 5 dimensi yang terdiri dari: pertama increase product quality, kedua reduce number of defects, ketiga reduce production cost, keempat improve customer service, kelima reduce delivery time to customer.

 

May 29, 2009 Posted by globalmanagement | Organizational Behaviour | | No Comments Yet

Kolaborasi Antar Organisasi

Oleh : Syeh Assery

 

Kolaborasi adalah hubungan antar organisasi yang saling berpartisipasi dan saling menyetujui untuk bersama mencapai tujuan, berbagi informasi, berbagi sumberdaya, berbagi manfaat, dan bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan bersama untuk menyelesaikan berbagai masalah (Gray and Hay 1986; Ring and Van de Ven, 1994; Spekman et al. 1998; Stank et al., 1999; Philips et al. 2000; Barrat and Oliveira 2001).

 

Kolaborasi didasarkan pada saling percaya, keterbukaan, berbagi resiko dan manfaat, dalam meningkatkan keunggulan bersaing untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik disbanding bila tidak berkolaborasi (Hogart-Scot, 1999). Saat ini makin banyak perusahaan yang berkolaborasi karena pasar yang semakin beragam, harga yang saling bersaing, dan siklus hidup produk yangs semakin singkat (Sossay et al., 2008).

 

Soosay et al., (2008) meneliti hubungan kolaborasi antar organisasi dengan inovasi berkelanjutan. Kolaborasi ditentukan pula oleh kompetensi skill dan expertise para partner.  Kolaborasi penting untuk meningkatkan inovasi berkelanjutan sebagaimana para partner menyadari keuntungan dari inovasi seperti kualitas tinggi, biaya rendah, pengiriman tepat waktu, oeprasi yang effisien, dan koordinasi yang efektif (Sossay et al.,2008).

 

Ada 5 Tipe Kolaborasi ; (1) Strategic Alliances, yaitu apabila dua atau lebih organisasi saling bekerjasama dan berbagi sumberdaya, pengetahuan, dan kapabilitas dengan tujuan meningkatkan keunggulan bersaing para partner. Aliansi Strategis dapat digunakan untuk menemukan teknologi baru, penetrasi pasar baru, memperoleh pengetahuan dari pemimpin industri. (2) Joint Ventures, (3) Cooperative Arrangements, (4) Virtual Collaboration, dan (5) Integration.

 

Read more »

April 18, 2009 Posted by globalmanagement | Management | | No Comments Yet

Orientasi dalam Supply Chain

 

Oleh: Syeh Assery

 

Hult et al., (2008) menguji hubungan antara Supply Chain Orientation dengan Organizational Performance.  Orientasi SC oleh Hult et al. (2008) didefinisikan sebagai “the extent to which there is a predisposition among chain members toward viewing the supply chain as an integrated entity on satisfying chain needs in an integrated way. This predisposition can arise when chain members develop shared values and beliefs centered on the importance of the overall supply chain not just on their specific functional area”

 

Menurut Hult e al, (2008), ada 6 variabel tentang Orientasi SC sebagai berikut:

  1. Customer Orientation
  2. Competitor Orientation
  3. Value Chain Coordination
  4. Supplier Orientation
  5. Logistic Orientation
  6. Operation Orientation

 

Hult et al., (2008) melakukan penelitian dengan menggunakan kuesioner yang dikirimkan secara online kepada 1.000 responden yang terdiri dari CEO, Presidents, VP. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa :

 

Pertama, konsep SC Orientation yang terdiri dari 6 variabel first-order ini berhubungan dengan SC Orientation sebagai second order. Dua variabel utama yaitu Logistic Orientation dan Value Chain Coordination merupakan variabel terkuat, bukan berarti keempat variabel lainnya tidak diperlukan,  namun dengan lebih menitikberatkan perhatian pada kedua variabel utama ini akan lebih penting dalam mengembangkan SC Orientation.

 

Kedua, SC Orientation tidak hanya mempengaruhi Internal Process Performance, tapi juga mempengaruhi ketiga dimensi kinerja yang lain yang ada dalam Balance Scorecards yaitu Customer Performance, Financial Performance, dan innovation and learning performance.

 

April 18, 2009 Posted by globalmanagement | Management | | No Comments Yet

Inovasi Berkelanjutan

Oleh : Syeh Assery

 

Soosay et al. (2008) menyatakan bahwa inovasi dapat dilakukan dalam berbagai aktivitas logistic seperti ; new product development, process improvement, service delivery, inventory management, technology transfer, dan capacity planning.

 

Inovasi merupakan suatu kegiatan dalam melakukan generation, development, dan implementation idea atau perilaku dalam kaitannya dengan pengembangan. Baik pengembangan di level produk dan jasa, teknologi, struktur dan proses produksi, sistem administrasi baru, serta penemuan pasar baru yang dilakukan organisasi perusahaan (Damanpour, 1991).

 

Faktor penentu inovasi dapat berupa faktor individual, faktor organisasional, dan faktor lingkungan. Inovasi merupakan suatu proses sejak tahap uji coba, implementasi, sampai komersialisasi. Pada tahap uji coba meliputi pengumpulan informasi dan evaluasi sumberdaya yang mendorong keputusan untuk melakukan inovasi. Tahap implementasi berkaitan dengan proses ekploitasi dan komersialisasi ide dalm organisasi.

 

Inovasi merupakan kegiatan utama dari seorang entrepreneur dapat berupa incremental inovation maupun radical inovation.  Incremental innovation dengan melakukan perubahan kecil dalam disain dan proses yang melibatkan pelanggan. Radical innovation dengan melakukan riset dan pengembangan jangka panjang secara terus menerus.. Untuk memperoleh competitive advantage bagi entrepreneur diperlukan kedua inovasi tersebut (Sexton, Donald, Et l, 1992)..

 

Inovasi yang dilakukan dapat menghasilkan perbaikan produk, jumlah product line, maupun product flexibility yang dihasilkan. Penciptaan produk baru merupakan inovasi yang diharapkan dapat mempengaruhi perubahan dinamika lingkungan melalui perubahan struktur industri.

 

April 18, 2009 Posted by globalmanagement | Management | | No Comments Yet