Sedikit tentang Filsafat Ilmu
Oleh : Syeh Assery
Manusia dalam memahami dunia sekelilingnya mengenal dua sarana:
1. Pengetahuan ilmiah (Scientific Knowledge): merupakan pengetahuan yang sistematis dengan berbagai hipotesis yang telah dibuktikan kebenarannya secara sah.
2. Penjelasan gaib (mystical explanation) atau metafisik (non-scientific knowledge) yang tak mungkin diuji sahnya untuk menjelaskan rangkaian suatu peristiwa.
Di antara rentangan pengetahuan ilmiah dan metafisis terdapat persoalan-persoalan ilmiah (scientific problem) yang merupakan kumpulan hipotesis yang dapat diuji tetapi belum secara sah dibuktikan kebenarannya.
Seperti dapat kita gambarkan (gambar 1) dalam 3 bidang lingkaran, maka lingkaran I diliputi lingkaran II yang diliputi lingkaran III. Bidang I, Pengetahuan Ilmiah yaitu kumpulan hipotesis yang telah terbukti sah (validated hypotheses). Bidang II, Persoalan Ilmiah yaitu kumpulan hipotesis yang dapat diuji (testable hypotheses), tetapi belum dibuktikan sah.Bidang III, Pengetahuan Gaib atau Metafisis yaitu kumpulan hipotesis yang tak dapat diuji sahnya (non testable hypotheses).
Para ilmuwan mencurahkan tenaga dan waktunya dalam bidang II yaitu terus menerus berusaha membuktikan sahnya berbagai hipotesis sehingga bidang I akan bertambah besar. Usaha memperbesar bidang I sehingga kumpulan pengetahuan ilmiah menjadi semakin luas sering disebut dengan penelitian (research). Jadi ada hubungan erat antara ilmu pengetahuan dengan penelitian. Demikian pula terdapat kaitan erat antara pemikiran untuk memecahkan persoalan ilmiah dengan metode yang dipakai dalam penelitian.
Dalam pendekatan Positivisme Logis, ilmu pengetahuan bermula dari observasi empiris yang akan menghasilkan singular statement. Jika kondisi tertentu dipenuhi dapat dilakukan generalisasi dari singular statement menjadi hukum universal atau teori.
Kondisi tertentu itu adalah:
1. Jumlah observasi harus besar
2. Observasi ini harus diulang-ulang dengan berbagai kondisi yang berbeda.
3. Pernyataan observasi yang diterima tidak boleh bertentangan dengan hukum universal yang dihasilkan.
Burrel dan Morgan (1979), menjelaskan asumsi sifat ilmu sosial ditinjau dari sisi ontology, epistemology, dan sifat manusianya, serta asumsi masyarakatnya. Masing-masing dijelaskan dari sisi pendekatan positive (mainstream) dan sisi pedekatan sosiologis.
Pendekatan minstream positive mendasarkan pada beberapa asumsi sebagai berikut. Aspek ontology, bahwa dunia sosial dan strukturnya dapat dipandang memiliki keberadaan secara empiris dan konkrit diluar diri peneliti serta terpisah dari individu yang ingin mempelajarinya (realisme fisik). Aspek epistemologinya, bahwa ilmu pengetahuan dianggap dapat diperoleh lewat observasi (induksi) dan disusun secara sepotong-sepotong. Aspek sifat manusianya, bahwa perilaku manusia dan pengalan-pengalamannya ditentukan dan dibatasi oleh lingkungannya. Dan aspek sifat masyarakatnya, bahwa ada keteraturan, order dan stabilitas yang digunakan untuk menjelaskan mengapa masyarakat cenderung untuk selalu dalam kebersamaan.
Pendekatan sosiologis berdasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut. Aspek ontologynya bahwa keberadaan suatu realitas merupakan produk dari kesadaran individu – dunia sosial terdiri dari konsep-konsep dan label-label yang diciptakan oleh manusia untuk membantu memahami realitas. Aspek epistemologinya, bahwa ilmu pengetahuan dapat dikaitkan dengan unsur subyektif dan bersifat personal, dan dunia sosial hanya dapat dipahami dengan cara mendapatkan ilmu pengetahuan dari subyek yang sedang diinvestigasi. Sifat manusianya, bahwa manusia dapat dipandang memiliki otonomi dan kebebasan, dan mampu menciptakan lingkungan yang dikehendakinya. Sifat masyarakatnya, bahwa masyarakat melihat pembagian mendasar dari kepentingan, konflik dan ketidak adilan distribusi kekuasaan yang pada gilirannya menimbulkan perubahan radikal.
Bila digambarkan dalam perbandingan sebagai berikut:
Bila ontologinya empiris, maka epistemologinya objective dengan induksi dan ilmu pengetahuan dapat disusun sepotong demi sepotong, adapun sifat manusianya dbatasi lingkungannya, dan sifat masyarakatnya ada keteraturan, kepatuhan dan stabil.
Sedangkan bila ontologinya non empiris atau diciptakan oleh manusia sendiri, maka epistemologinya subjective personal karena langsung pada subjek yang diinvestigasi, sedangkan sifat manusianya otonom dan bebas bahkan mampu menciptakan lingkungan yang dikehendakinya, lalu sifat masyarakatnya ada saling kepentingan dan konflik bahkan ketidakadilan sehingga memerukan perubahan radikal.
Validitas ilmu pengetahuan tidak didasarkan pada alat yang dipakai tapi pada koherensinya. Dimensi-dimensi dalam riset social bisa objective bisa subjective.
Objective maka ontologinya realisme, epistemologinya adalah positivism, human naturenya determinism, dan metodologinya nomothetic atau objective kuantitatif. Apabila Subjective maka ontologinya nominalisme, epistemologinya antipositivism, human naturenya voluntarism, dan metodologinya ideographic atau subjectif kualitatif.
Teori akuntansi awal dikembangkan dengan konsep penalaran normative ini seperti dilakukan Paton(1922); Edward and Bell (1961); Chambers (1966); Sterling (1970). Pengembangan teori akuntansi manajemen juga menggunakan logika deduktif yang menghasilkan tenik-teknik akuntansi manajemen yang tidak memiliki kandungan empiris. Lalu timbul kesenjangan antara teori yang diajarkan di buku teks akuntansi manajemen dengan realitas yang sesungguhnya digunakan oleh perusahaan dalam praktek sehari-hari. Akuntansi sebagai seni memberikan definisi seni mencatat dan meringkas transaksi-transaksi bisnis dan menginterpretasikan pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi. Tidak jelasnya perbedaan akuntansi sebagai bidang studi dan akuntansi sebagai bidang pekerjaan.
Definisi akuntansi sebagai seni awal tahun 1970-an mulai ditolak oleh para akademisi akuntansi. Mereka berpendapat bahwa akuntansi adalah ilmu (science) atau paling tidak dikembangkan sebagai science. Dengan demikian dierlukan scientific methodology untuk mengembangkan akuntansi sebagai science. Maka diadopsi paham Logical Positivism dalam filsafat ilmu sebagai dasar pengembangan akuntansi sebagai science
Implikasi dari logical positivism ini memunculkan teori akuntansi normative (lewat penalaran deduktif) dan teori akuntansi positive (penalaran induktif). Teori akuntansi normative ingin menjawab apa yang seharusnya dilakukan oleh akuntansi dalam praktek sehari-hari atau ingin menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan “berapa besarnya biaya, pendapatan, kekayaan (asset) dan hutang yang harus dilaporkan?” Kegagalan akuntansi normative menjelaskan praktek akuntansi mendorong timbulnya pendekatan positive (induktif) dalam pengembangan teori akuntansi. Teori akuntansi positive ingin menjelaskan “why acounting is what it is, why accountant do what they do”
Dalam buku The Scope and Method of Political Economy (1891) tulisan John Neville Keynes (bapak dari John Maynard Keynes) membedakan ilmu ekonomi kedalam tiga kategori : 1. Positive Economics, 2. Normative Economics, 3. Art of Economic (Applied Economics).
Tema sentral manajemen juga mengalami pergeseran dari tahap pertama efisiensi mekanis dalam perspektif lingkungan tertutup dengan tokohnya Frederick Taylor, Henry Fayol, kemudian tahap kedua human relation dengan perspektof lingkungan tertutup dan tojohnya Elton Mayo dan Mc Gregor.
Tahap ketiga dengan tema sentral disain kontinjensi dan perpektif sistem lingkungan terbuka dengan tokohnya Herbert Simon dan Aston Group, lalu keempat tema persaingan, kekuasan dan politik yang berdasarkan sistem lingkungan terbuka dengan tokohnya March dan Pfeffer.
Sekian.
No comments yet.
Leave a comment
-
Recent
- Politik : Komoditas atau Aktivitas?
- Contoh Kritik Artikel Jurnal
- Berkolaborasi Antar Organisasi
- Strategi Mempercepat Pemberdayaan UMKM
- Disain Organisasi Modular
- Mengukur Keunggulan Bersaing
- Mengukur Efektifitas Organisasi
- Kolaborasi Antar Organisasi
- Orientasi dalam Supply Chain
- Inovasi Berkelanjutan
- Memahami Kembali tentang Keunggulan Bersaing
- Organizational Culture
-
Links
-
Archives
- July 2009 (3)
- May 2009 (4)
- April 2009 (5)
- March 2009 (3)
- February 2009 (5)
- November 2008 (1)
- October 2008 (2)
- September 2008 (4)
- August 2008 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
