Intermezzo: Kurma, Kompor Gas, dan Kompor Listrik

 

Kemarin sore, saya mampir ke sebuah mall untuk membeli kurma titipan keluarga sebagai persiapan buka puasa. Teman saya bilang di mall ini ada kurma yang bagus dan lebih enak dibanding yang lain. Saya pikir tidak ada salahnya sekali setahun saya mendapat kurma yang bagus dan enak. Sambil berjalan mencari kurma yang bagus saya melewati tempat pameran kompor listrik. Tampak ada 1 orang spg (sales promotion girl) sedang duduk sambil menerangkan tentang kompor listrik kepada calon pembeli seorang ibu muda berpakaian sutera halus dan membawa tas kulit  yang tampak serius memperhatikan spg itu.

 

Ada lagi 2 orang spg (sales promotion girl) berdiri sedang memegang brosur dan buku petunjuk penggunaan kompor listrik sambil menawarkan kepada para pengunjung yang lalu lalang. Salah satu dari spg yang berdiri itu menghampiri saya dan sedikit memaksa untuk melihat demo memasak air dengan kompor listrik tersebut. Karena saya tidak terburu buru membeli kurma, maka saya ikuti juga untuk mendengarkan penjelasannya. Dalam hati  saya juga penasaran dengan kompor listrik yang berwarna hitam manis tersebut.

 

Mulailah spg (sales promotion girl) menerangkan kegunaan kompor listrik sambil berdemo memasak air panas. Tidak tampak nyala apinya tapi air lama lama mendidih juga. Bahkan suhu bisa diatur panasnya, untuk memasak air panas berbeda suhu dibanding untuk memasak sup, ternyata pengaturan suhu dihubungkan dengan pemakaian wattnya yang dapat distel dan disesuaikan, pemakaian watt yang terendah 100watt dan tertinggi 1000watt. Didemokan pula bagaimana memasak air tapi ada majalah diantara tungku dengan pancinya, sehingga pancinya berada diatas majalah, dan majalahnya berada di atas tungku kompor listrik tersebut, tapi tetap bisa mendidih juga tanpa membakar kertas majalah itu. Menarik sekali.

 

Pikiran saya selanjutnya malah melamun mengingat pengalaman selama ini telah tinggal di Jakarta sejak sepuluh tahun lalu. Saya ingat sudah ada 4 kali pergantian pemerintahan sejak reformasi 1998 lalu. Dimulai dari pemerintahan Habibie, Gus Dur, Megawati, dan kini SBY.

 

Lima tahun pertama saya di Jakarta menggunakan kompor minyak tanah yang cukup rendah biaya operasinya. Jarang ada komplain problem kompor rusak dan bila ada paling ganti sumbu kompor. Waktu itu minyak tanah cukup melimpah dan mudah didapat di warung sebelah rumah. Berdasar pengalaman selama ini, kompor minyak tanah masih dapat dipakai dalam waktu 2.5 tahun, sehingga bila saya menggunakan 2 kompor untuk keperluan rumah tangga saya, maka selama lima tahun tersebut saya hanya membeli 4 unit kompor minyak tanah.

 

Saya dapat kabar dari teman harga kompor minyak tanah setahun lalu Rp.65ribuan dan minyak tanah masih sekitar Rp.3ribuan perliter. Saya membayangkan bila saat ini saya masih menggunakan kompor minyak tanah, dengan konsumsi minyak tanah 15 liter sebulan maka cukup dengan Rp.45ribu saja semua kebutuhan memasak rumah tangga saya dapat dilayani oleh kedua kompor minyak yang baik hati itu.

 

Lima tahun kedua di jakarta, saya merasa perlu mengganti dengan kompor gas elpiji, bertepatan dengan kenaikan kepangkatan dosen. Dengan memakai komporgas elpiji 2 tungku maka pengeluaran untuk pembelian  kompor gas dan belanja gas elpijinya jelas lebih tinggi dibanding menggunakan kompor minyak tanah. Saya pikir tidak masalah karena status pekerjaan di kantor saya waktu itu juga meningkat, alias naik pangkat yang berarti naik gaji, sehingga merasa perlu menaikkan status kompor di rumah menjadi kompor gas. Berdasar pengalaman kekuatan kompor gas yang saya pakai 2.5 tahun, sehingga selama 5 tahun tersebut saya telah membeli kompor gas 2 kali.

 

Saat ini harga kompor gas elpiji 2 tungku sekitar Rp.500ribuan yang lengkap dengan panggangan di tengah dan selang yang dilengkapi dengan regulator. kebutuhan sebulan gas elpiji 2 tabung ukuran 12 kilogram harganya naik turun sekitar Rp.65ribu di waung Pak RT.. Walaupun agak mahal tapi diantar sampai rumah oleh anak pak RT, jadi saya pikir sekaligus mempererat silaturahmi terutama bagi saya yang tidak pernah sempat hadir rapat RT karena pulang kerja larut malam dan juga jarang ikut kerja bakti karena minggu pagi sulit bangun.

 

Lamunan saya terputus setelah spg (sales promotion girl) itu memanggil manggil saya dan bertanya: bagaimana pak, apakah ada pertanyaan? Saya tergagap dan otomatis membuat pertanyaan balik: pertanyaan tentang apa? Spg (sales promotion girl) terdiam dan menatap saya tajam, namun sesuai dengan tugasnya sabar menjelaskan kepada orang lain, maka spg (sales promotion girl) dengan sabar mengatakan: maksud saya, dari penjelasan saya tentang komporlistrik ini apakah ada yang ingin bapak ketahui atau bertanya lebih lanjut?

 

Saya melihat ke arah meja kursi yang ditempati ibu muda dan spg yang duduk tadi, tapi tidak lagi tampak ibu muda itu. Mungkin saya hanya sekedar ingin membandingkan bagaimana kira kira pertanyaan ibu muda tadi kepada spg kompor listrik yang menerangkan kepadanya. 

 

Apakah bertanya tentang harganya atau justru tidak mempermasalahkan harganya? Apakah harga mencerminkan kegunaan ataukah harga didasarkan pada biaya produksi pembuatan kompor plus keuntungan produsen? Apakah harga setara dengan nilai kegunaannya? Dan saya juga tidak tahu apakah ibu muda tadi jadi membeli kompor listrik atau tidak. Apakah membeli karena benar benar membutuhkan dan tahu fungsinya atau hanya untuk meningkatkan status sosialnya? Apakah membandingkan pilihan pilihan atau tidak melakukan perbandingan dengan kompor lain? Apakah membuat daftar prioritas pembelian barang atau tidak? Apakah membeli dengan melakukan keputusan rasional atau keputusan emosional?

 

Lalu saya menatap ke arah spg (sales promotion girl) tadi dan melontarkan pertanyaan yang saya anggap paling tepat: harganya berapa? Spg (sales promotion girl) tersernyum karena mungkin dia menganggap telah berhasil mempengaruhi calon konsumen. Harganya delapan juta, Pak, jawabnya sambil masih tersenyum. Saya terdiam sejenak memikirkan harga kompor listrik yang disebutkan spg, namun saya merasa lebih baik duduk dulu daripada berdiri. Saya menuju meja kursi yang telah kosong bekas tempat ibu muda tadi duduk. Spg (sales promotion girl) mengikuti saya dengan senyum yang semakin melebar, mungkin menganggap bahwa saya lebih serius dan mengira saya akan menjadi konsumennya yang kesekian. Padahal saya duduk untuk lebih menuju keseimbangan diri setelah mendengar angka yang disebutkan tadi.

 

Sebagai pengajar matakuliah ekonomi mikro saya harus membaca fenomena ini lebih luas dari sekedar pelaku ekonomi. Saya harus menjadi pengamat, sekaligus dapat memberikan alasan yang paling tepat dan rasional apabila saya tidak jadi membeli. Di kelas saat saya memberikan kuliah sering menjelaskan bagaimana perilaku konsumen dan perilaku produsen. Di depan mahasiswa saya juga menerangkan tentang demand dan supply yaitu bagaimana terjadinya permintaan konsumen dan penawaran produsen. Saya juga menjelaskan teori pilihan dan prioritas konsumen, yaitu bagaimana asal mula orang memilih berbagai alternatif kebutuhan yang harus dipenuhi dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki. Dan spg (sales promotion girl) ini tampaknya seusia mahasiswi saya, jadi tepat kalau saya menganggap dia akan mendengarkan penjelasan saya.

 

Boleh saya minta kertas dan pulpen?, saya bertanya kepada spg (sales promotion girl) yang kini duduk berhadapan dengan saya. Dengan kertas dan pulpen yang dia berikan, saya menulis beberapa kalimat dan angka, beberapa persamaan dan perhitungan biaya, dan tak lupa disertai tabel dan gambar untuk lebih menarik, seperti yang biasa dilakukan dosen di kelas.  

 

Mengenai persamaan ekonomi, tabel, grafik, yang cenderung mematematikakan masalah ekonomi ini masih menjadi bahan perdebatan para ekonom. Ada yang menganggap itu terlalu menyederhanakan permasalahan ekonomi ke dalam angka dan grafik sehingga meninggalkan aspek moralitasnya, dan sebagian yang lain berpendapat justru dengan adanya angka dan grafik menjadikan perekonomian dapat diketahui dan diprediksi dari suatu model matematika yang dibuat. Saya tidak terlalu mempermasalahkan kedua pihak ekonom yang berseteru mempertahankan pendapat masing-masing tersebut, yang penting saya punya bahan untuk menerangkan kepada spg (sales promotion girl) yang telah menunggu apa yang akan saya ucapkan. Dan saya mulai menerangkan kepadanya seperti menghadapi mahasiswi di kelas saja.

 

Saya menjelaskan bahwa kompor listrik akan lebih tinggi biaya operasional perbulannya dibanding kompor gas elpiji. Kompor listrik membutuhkan listrik sekian watt dan kompor gas elpiji mmembutuhkan sekian kg gas elpiji. Apabila saat ini biaya listrik rumah tangga rata-rata Rp.500 per kwh, dengan tingkat pemakaian kompor listrik pagi siang malam rata-rata 10 jam per hari,  dengan suhu panas rata-rata setara 500watt maka biaya listriknya satu bulan diperkirakan Rp.250.000. Sedangkan bila menggunakan kompor gas elpiji, biaya gas elpiji sebanyak 2 tabung ukuran 12kg dalam sebulan diperkirakan Rp.130.000. Dari selisih biaya pemakaian energi tersebut jelas ada perbedaan hampir dua kali lipat. Saya menegaskan kepadanya  bahwa biaya pengeluaran bulanan untuk kompor listrik lebih tinggi daripada kompor gas elpiji. Demikian pula pengeluaran modal untuk pembelian di awal antara kompor listrik dan kompor gas elpiji juga berbeda. Kompor listrik yang seharga Rp8Juta dengan umur pemakaian sekitar 5 tahun, masih jauh sekali lebih tinggi dibanding kompor gas elpiji seharga Rp.500ribuan. Dan dengan kekuatan kompor gas elpiji sekitar 2,5 tahun maka membeli 2 kompor gas elpiji menjadi senilai Rp.1Juta masih jauh lebih rendah dibanding membeli kompor listrik itu.

 

Saya berusaha membuat penjelasan yang sederhana sehingga memudahkan dia memahami karena saya tidak akan membeli. Dan tampaknya spg (sales promotion girl) tersebut mulai mengerti bahwa secara rasional saya dapat memberikan penjelasan yang cukup masuk akal. Tampaknya pula dia tidak bisa memberikan perbandingan yang lain yang berlawanan dengan yang saya jelaskan. Saya semakin merasa diatas angin untuk segera pergi. Namun untuk tidak mengecewakan dia tak lupa saya berterima kasih atas penjelasannya tentang kompor listrik yang dipamerkan tersebut.

 

Dalam perjalanan pulang diatas bus saya menganalisis lagi perbandingan antara biaya listrik dan gas elpiji yang telah saya jelaskan pada spg tadi. Kalau untuk saat ini, memang biaya operasional kompor gas elpiji masih dibawah biaya operasional kompor listrik. Tapi bukankah harga gas elpiji akan naik terus? Pertamina sendiri katanya berencana menaikkan harga gas elpiji namun tidak jadi karena ada permintaan pemerintah untuk tidak dinaikkan sekarang, bahkan katanya pemerintah melarang pertamina menaikkan harga gas elpiji. Tapi apakah akan berhenti sampai disitu ? Padahal hak menaikkan harga gas elpiji katanya ada di tangan pertamina? Dan gas elpiji merupakan komoditi yang dapat dijual ke luar negeri, sehingga apabila permintaan luar negeri lebih tinggi dari dalam negeri dan harga jual ke luar negeri lebih mahal dibanding harga jual ke konsumen dalam negeri, apakah pertamina akan dilarang menaiaikkan harga dalam negeri? Bukankah ini berarti ketersediaan gas elpiji di dalam negeri akan semakin sedikit? Saya membayangkan dalam 5 atau 10 tahun kedepan, bukankah hal itu berarti akan ada kecenderungan kenaikan harga gas elpiji yang semakin tinggi? Bukankah disamping itu gas elpiji dihasilkan dari sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui lagi?

 

Adapun mengenai biaya listrik, pemerintah berencana membangun tenaga listrik 10 ribu megawatt sampai 2010 nanti, apakah ini berarti ketersediaan listrik akan semakin banyak? Dan listrik bukan komoditi yang bisa diekspor, sehingga tingkat pembandingan harga untuk pembeli di luar negeri tidak ada. Saya membayangkan dalam 5 atau 10 tahun ke depan harga listrik akan mengalami kecenderungan kenaikan tapi tidak setinggi kenaikan gas elpiji. Dan listrik juga masih dapat dibuat dengan membangun pusat tenaga dan distribusi listrik terus menerus, disamping itu, dibandingkan gas elpiji, listrik termasuk energi yang dapat diperbaharui.

 

Dari perbandingan yang saya jelaskan ke spg kompor listrik di mall tadi sebagai informasi jangka pendek, ternyata berbeda dengan analisis dan bayangan saya yang bersifat jangka panjang. Apalagi untuk membicarakan sektor listrik, gas, dan air bersih. Dari indikator pertumbuhan ekonomi makro Indonesia memang tampak pertumbuhan sector ini. Presentase pertumbuhan sektor litrik, gas, dan air bersih yaitu 4,9(2003)  5,3(2004) 6,3(2005) 5,8(2006) 10,4(2007).

 

Namun dalam suasana perekonomian yang penuh ketidakpastian memang dibutuhkan data dan informasi yang lebih banyak untuk menganalisis dan memprediksi suatu kejadian.  Dan saya termasuk orang yang benar benar berharap bahwa pemerintah kita baik yang sekarang ataupun yang akan datang termasuk yang masih bisa membahagiakan kelompok masyarakat kelas pendapatan seperti saya dan dibawah saya, termasuk membahagiakan untuk masih bisa memasak dengan biaya murah di rumah sehingga tidak perlu menganalisis dan membayangkan yang rumit rumit.

 

Diam-diam saya menjadi tidak enak hati dengan spg kompor listrik karena setelah saya analisis dan bayangkan secara jangka panjang tidak seperti yang telah saya jelaskan kepadanya tadi. Dan saya lebih tidak enak hati lagi ketika sudah sampai di rumah untuk berbuka puasa, langsung ditanya oleh keluarga saya: kurmanya mana? Astaghfirullah, saya lupa beli kurmanya. (Jakarta, pertengahan puasa 2008)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: