Customer Orientation dalam Supply Chain

Oleh : syeh.assery@undip.ac.id

Jeong dan Hong (2007) menegaskan ada perbedaan antara customer orientation dalam suatu single firms dan customer orientation dalam suatu supply chains.  Ada roadmap dari konstruk customer orientation yang semula berdasar perspektif single firm menjadi perspektif supply chain.

Konstruk Customer Orientation dalam Supply Chain ini merupakan customer-driven network attitude yang terdiri dari customer-closeness, customer-flexible, dan customer-accessible.

Customer Orientation dalam suatu supply chain didefinisikan sebagai derajat suatu supply chain dapat memfokuskan diri pada customers, memahami kebutuhannya, serta mampu memenuhi, dengan cara memberikan produk atau jasa unggulan, melalui kolaborasi antar partner dalam supply chain.

Customer Orientation merupakan kombinasi dari organizational culture, manager and employee commitment to customers, and formal and informal managerial desires, to fulfill customer needs through the entire supply chain (Jeong dan Hong, 2007).

Customer Orientation dalam perspektif Supply Chain harus mempertimbangkan multiple customer requirements yang terjadi melalui aliran dalam supply chain. Demikian pula perlunya membangun suatu sistem informasi interaktif yang kondusif untuk supply chain.

Customer Orientation dalam Supply Chain yang efektif membutuhkan investasi dalam membentuk pengembangan budaya berkolaborasi antar organisasi (network culture development) dan investasi intangible partnership relationship lainnya serta investasi tangible IT Infrastructure (Jeong dan Hong, 2007).

Beberapa Isu Penting Supply Chain

Oleh Syeh Assery (syeh.assery@undip.ac.id)

Jhonson (2006) membahas lima isu penting terkait dengan Supply Chain yaitu; (1) Globalisasi dan Alihdaya, (2) Teknologi Informasi, (3) Risk Management, (4) Nilai Ekonomis, dan (5) Life Cycle Management.

Globalisasi dan Alihdaya berhubungan dengan strukturisasi dan koordinasi SC. Perusahaan-perusahaan membutuhkan model canggih untuk dapat mengalokasikan produksi mengikuti sistem produksi global yang semakin kompleks dan terintegrasi.

Teknologi Informasi seperti e-procurement, radio frequency identification (RFID) dan aplikasi lain diperlukan untuk mendukung integrasi dan kolaborasi antar perusahaan.

Risk Management berupa munculnya resiko yang timbul dari semakin kompleksnya SC dan ancaman pengamanan perusahaan, juga resiko dari adanya Globalisasi dan Alihdaya.

Nilai ekonomis selalu ada dalam faktor-faktor yang ada dalam SC atau antar SC. Seperti proses produksi dan harga yang bersaing.

Life Cycle Management, termasuk layanan purna jual dan jasa perbaikan tidak hanya berakhir saat produk terjual saja. Banyak perusahaan memperhitungkan pula peluang laba dalam layanan purna jual. Pada perusahaan semacam ini, layanan purna jual menjadi bagian strategi penting untuk mengelola pendapatan.

Beberapa Definisi Supply Chain

Oleh: Syeh Assery (email: syeh.assery@undip.ac.id)

Sejarah perkembangan definisi Supply Chain sejak tahun 1960-2010 sebagai berikut.

Forester (1961) mengajukan konsep interaksi antar fungsi dalam perusahaan dan sukses suatu perusahaan didasarkan pada interaksi aliran informasi, material, manusia, dan peralatan.

Oliver dan Weber (1982) mencetuskan istilah Supply Chain Management (SCM) pertama kali. SC adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerjasama untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Sedangkan SCM adalah metode, alat, atau pendekatan pengelolaannya.

Selanjutnya Lambert, Cooper, dan Pagh (1998) menyatakan “Supply Chain Management is the most teorithical and empirical investigation comencing in 1997”

Croom et al. (2000), menyajikan petunjuk yang yang sangat baik tentang Supply Chain Management. In the same breath academics admit their inadequacy in providing suitable guidance via empirical studies, construct development, and theory building in academic publications.

Menurut Gunasekaran et al., (2001), beberapa peneliti berargumentasi bahwa kita sekarang berada dalam suatu era baru dimana firm performance and competitive advantage will be linked to supply performance.

Mentzer et al (2001) mendifinisikan SC is a sets of three or more entities (organization or individuals) directly involved in the upstream and downstream flows of products, services, finances, and/or information from a source to a customer. SCM is systematic strategic coordination of the traditional business functions within a particular company and across businesses within a supply chain, for the purpose of improving the longterm performance of the individual companies and the supply chain as a whole.

Giunipero et al., (2008) menyatakan bahwa ada 5 variabel Supply Chain Management, yaitu : (1) Integration Behavior, (2) Share information, risk, and reward, (3) Cooperate on activities performed, (4) Active participation, dan (5) Longterm relationship.

Studi Kaitan SCM dan HRM Hanya Sedikit

Oleh : Syeh Assery (email: syeh.assery@undip.ac.id)

Studi tentang Supply Chain Management  selama ini lebih banyak menitikberatkan pada aspek logistik, produksi, sistem informasi, dan strategi. Namun hanya sedikit studi yang menitikberatkan pada faktor manusianya (Human Resource Management).

Ada dua tipe kaitan antara SCM dan HRM. Pertama, tentang aplikasi, praktek, dan teori HRM di dalam suatu perusahaan dalam mengelola SC. Kedua tentang aplikasi, praktek, dan teori HRM antar perusahaan dalam mengelola SC. (Koulikoff and A Harrison, 2007).

Riset terkait Supply Chain Management (SCM) yang berhubungan dengan Human Resource Management (HRM) masih sedikit. Terhitung sejak tahun 1997 hingga tahun 2006 hanya ada 8 penelitian saja (atau kurang lebih 2 persen) dari sekitar 405 penelitian SCM  (Giunipero, et al., 2008).

Review atas artikel dan penelitian SCM dilakukan oleh Giunipero et al. (2008 ) sebanyak 405 articles dari 9 penerbit journals (1997-2006). Burges et al. (2006) mereview sebanyak 614 articles dari 31 penerbit journals (1985-2003). Carter & Ellram (2003) mereview sebanyak 774 articles dari 1 penerbit journal (1965-1999). Rungtusanatham et al. (2003) mereview sebanyak 285 articles dari 6 penerbit journals (1980-2000). Dan Croom et al. (2000) mereview sebanyak 84 articles dari berbagai journals, books, conference proceedings, tanpa menyebutkan periode waktunya. (Giunipero et al., 2008).

Supply Chain Business Process adalah terintegrasi dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Banyak komponen yang terlibat di dalam suatu Supply Chain, dan efektifitas ditentukan oleh bagaimana distrukturisasi dan dikelola dengan baik. Aliran material dan informasi juga memainkan peran penting dalam disain dan pengelolaan Supply Chain. Setiap langkah dalam aliran tersebut mempengaruhi seluruh proses bisnis Supply Chain (Manzini et al., 2005).

Organisasi-organisasi yang terlibat dalam Supply Chain terdorong untuk mestrukturisasi dan merekayasa ulang efektifitas Supply Chain. Untuk merealisasikannya perlu melihat kepada lingkugan luar organisasi dan mengevaluasi bagaimana “suppliers and customers can be utilised to create exceptional value”  (Soosay et al., 2008).

Terkait dengan interaksi antar pihak-pihak yang terlibat dalam SC seperti pemasok, pabrik, distributor, dan pengecer,  semakin menunjukkan tantangan. Oleh karena itu pengelolaan SC yang efisien dan sinergis, menjadi pertimbangan sumber keunggulan bersaing (Hult et al., 2007).

Politik : Komoditas atau Aktivitas?

(Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 3 Juni 2009).

Oleh:  S. Assery

Akhir-akhir ini tampaknya semua orang membicarakan perkembangan politik. Baik di warung kopi maupun di restoran mewah, baik siang hari dibawah terik matahari maupun malam hari di bawah bulan purnama. Baik anak muda maupun orang tua, pengangguran maupun yang padat kesibukan. Semuanya ingin ikut membicarakan perkembangan politik.

Politik sebenarnya tergantung dari bagaimana cara orang memandangnya. Apakah sebagai komoditas atau sebagai aktivitas. Dipandang sebagai suatu komoditas yang dikemas dan ditawarkan dengan ‘penyedap rasa’ isu-isu politis. Atau dipandang sebagai suatu aktivitas yang membutuhkan kerjasama berbagai pihak yang saling berkepentingan untuk mencapai tujuan bersama.

Read more of this post

Contoh Kritik Artikel Jurnal

oleh :  S. Assery

Tulisan kritik jurnal ini dilakukan dengan argumentasi dari berbagai jurnal lain yang dijadikan sandaran pembahasan dalam penulisan kritik ini. Disamping itu juga akan dijadikan dasar perbendaharaan jurnal ilmiah dalam rangka penulisan proposal penelitian untuk disertasi yang sedang disusun penulis.

1. Perumusan Masalah Penelitian

Peneliti mengutip beberapa pendapat (reserach gap) yang mengkaitkan penelitian bertema Management Control System (MSC). Seperti pendapat Simons (1995) yang memberikan penjelasan bahwa esensi Management Control System adalah untuk mengelola tensi antara inovasi kreatif dan pencapaian tujuan di satu sisi, dengan menyeimbangkan antara control dan flexibility di sisi lain. Dan telah terjadi perubahan peran sistem pengendalian manajemen (the role of MCS) yang semula sebagai formal control dan feedback system (Anthony 1965; Hoftstede, 1978), kini bergerser menjadi pendukung utama dalam perubahan organisasi, pembelajaran organisasi, dan inovasi (Atkinson et al., 1997; Kloot, 1997, dan Simons, 1990).

Read more of this post

Kolaborasi dalam Industri Telekomunikasi

oleh:  S. Assery

Soosay et al., (2008) meneliti pentingnya kolaborasi yang merupakan salah satu unsur pendukung keunggulan bersaing.  Ang  dan Michailova  (2006) meneliti model kolaborasi berupa aliansi strategis  yang dilakukan oleh perusahaan multinasional yang membuka kantor usaha di negara lain.  Sedangkan Dyer (1997) meneliti pentingnya kolaborasi antar organisasi dengan transaksi nilai dan biaya dalam mencapai efektifitas.

Read more of this post

Strategi Mempercepat Pemberdayaan UMKM

(dimuat di Harian Suara Merdeka, 27 Mei 2009).

Oleh : S. Assery

Dengan populasi sebanyak 49,8 juta atau 99 persen dari total unit usaha yang ada di Indonesia,  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dapat menyumbang 53,6% PDB Indonesia pada tahun 2007 lalu. Demikian pula banyaknya jumlah pekerja yang terserap UMKM ini mencapai 91,8 juta jiwa atau 97,3 persen terhadap seluruh  tenaga kerja Indonesia (BPS, Mei 2008). Demikian pula Menteri Negara urusan Koperasi dan UKM dalam Rapat Kerja Komisi VI di DPR RI 11 Mei 2009 lalu mengemukakan bahwa diperkirakan perlunya modal sebanyak hampir 560 trilyun rupiah untuk UMKM. Jumlah tersebut dimanfaatkan oleh sekitar 51 juta unit UMKM di Indonesia atau sekitar 99% dari seluruh pelaku usaha nasional.

UMKM merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan berperan dalam proses peningkatan pendapatan masyarakat, bahkan dimasa krisis UMKM dikenal mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, namun masih banyak hambatan dan kendala yang dihadapi, baik internal maupun eksternal. Termasuk dalam hal produksi dan pengolahan, pemasaran, sumberdaya manusia, desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha.UMKM selama ini sering dihadapkan pada kesulitan mengakses sumber permodalan, penyediaan agunan, dan informasi mengenai produk atau fasilitas kredit perbankan.

Bagaimanakah strategi mempercepat pemberdayaan UMKM?  Read more of this post

Disain Organisasi Modular

Oleh :  S. Assery

Kemajuan teknologi dan globalisasi telah mendorong perubahan peta persaingan antar organisasi. Untuk dapat survive organisasi harus membangun kompetensi inti dan mengembangkan human capital yang dapat menyediakan fleksibiltas dalam berstrategi (Barney, 2007).

 Salah satu cara memenuhi fleksibilitas ini adalah dengan mendelegasikan pekerjaan baik internal organisasi (kedalam) maupun eksternal organisasi (keluar). Dengan kata lain, organisasi perlu membagi-bagi beberapa aspek aktifitas ke dalam modul-modul pekerjaan tertentu yang dapat dikerjakan oleh pihak lain di luar organisasi.

Disain Organisasi Modular diperlukan apabila organisasi mulai mengalihkan beberapa aktifitas pentingnya dalam suatu bentuk struktur yang tetap, terintegrasi, dan ketat. Sebagai contoh organisasi mengalihkan pekerjaan manufaktur kepada pihak diluar organisasi dan bukan dikerjakan di dalam organisasi.

Disamping itu adanya heterogenitas input dan permintaan juga menyebabkan diperlukannya Disain Organisasi Modular.

Ada tiga indikator Disain Organisasi Modular yaitu; contract manufacturing, alternative work arrangements, dan alliance formation (Schilling and Steensma, 2001).

Mengukur Keunggulan Bersaing

Oleh : S. Assery

Barney (2007) menyatakan Sustainability Competitive Advantage dapat diperoleh dengan melakukan proses penemuan terus menerus yang akan berlanjut kepada inovasi. Proses ini akan berjalan dengan baik bila terlebih dulu membangun kompetensi inti organisasi yaitu sumberdaya dan kapabilitas.

Salah satu cara mengidentifikasi kompetensi inti adalah dengan Value Chain Analysis. yang merupakan analisis terhadap aktifitas pokok dan aktifitas pendukung yang terjadi baik di dalam maupun diluar organisasi. Primary activities terdiri dari service, marketing, sales, dan outbound logistics. Sedangkan support activities terdiri dari firm’s infrastructure, human resource management, technological development, dan procurement  (Barney, 2007).

Read more of this post

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.